BantenLebak

Seba Baduy 2026: Pemkab Lebak Target 46.000 Pengunjung

×

Seba Baduy 2026: Pemkab Lebak Target 46.000 Pengunjung

Sebarkan artikel ini
Seba Baduy 2026: Pemkab Lebak Target 46.000 Pengunjung
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lebak, Yosep M Holis

Berita Utama

FOKUS LEBAK – Pemerintah Kabupaten Lebak akan menggelar Seba Baduy pada 24–26 April 2026, dengan format Seba Baduy letik yang melibatkan sekitar 1.500 warga Baduy.

Daftar Isi

Rangkaian acara akan dimulai dengan silaturahmi antara warga Baduy dan Bupati Lebak, lalu dilanjutkan dengan prosesi Seba kepada Gubernur Banten di Serang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lebak, Yosep M Holis, menyatakan target kunjungan wisatawan untuk perhelatan ini mencapai 46 ribu orang.

“Target pengunjung ke Seba Baduy 2026 sebanyak 46 ribu orang,” katanya, Kamis 5 Maret 2026.

Menurut Yosep, target itu diyakini dapat tercapai karena Pemkab berencana menambah rangkaian kegiatan hiburan dan pameran produk lokal sebelum dan sesudah prosesi Seba.

Baca juga: Kebudayaan Suku Baduy: Tradisi, Kepercayaan, dan Kehidupan Sehari-hari

Program pendukung meliputi pameran produk UMKM dan pentas seni budaya yang ditujukan untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Yosep menegaskan bahwa event ini juga dimaknai sebagai upaya pemulihan ekonomi bagi pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Lebak.

“Meskipun Seba Baduy ini menjadi kegiatan rutin, Pemkab Lebak akan terus mengelaborasi agar kegiatan ini menjadi menarik, baik dari segi pariwisata maupun berdampak secara ekonomi kepada masyarakat. Karenanya, kita terus mempersiapkan kegiatan ini agar berjalan tertib, lancar, dan sukses,” ujarnya.

Panitia lokal belum merilis rincian agenda harian atau protokol teknis, termasuk pengaturan arus pengunjung dan fasilitas bagi wisatawan, yang menjadi perhatian mengingat target pengunjung yang cukup besar.

Baca juga: 3 Upacara Adat Banten yang Unik, Memukau, dan Penuh Kesakralan

Jika target 46 ribu benar-benar tercapai, Lebak harus siap menghadapi lonjakan pengunjung—dari penjual kerajinan hingga penjual kopi keliling—dan tentu saja, antrean parkir yang mendadak menjadi bagian dari pengalaman budaya modern.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *