Ringkasan Berita
- BGN menutup dua SPPG di Kabupaten Serang dan Lebak.
- Penutupan karena menu MBG tak memenuhi standar mutu dan kelayakan konsumsi.
- Secara nasional, 41 SPPG di 11 provinsi juga ditindak.
- BGN membuka kanal pengaduan publik melalui @sidakbgn.
Berita Utama
FOKUS BANTEN – Badan Gizi Nasional (BGN) menutup dua Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) di Banten setelah ditemukan penyajian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tak memenuhi standar mutu dan kelayakan konsumsi.
Dua dapur yang dihentikan operasionalnya berada di Kabupaten Serang dan Kabupaten Lebak, yakni SPPG Serang Anyar Kosambironyok 2 serta SPPG Lebak Gunungkencana Sukanegara.
Penindakan dilakukan usai tim pengawas mendapati menu yang disajikan tidak memenuhi ketentuan mutu dan standar gizi. Langkah ini disebut sebagai bagian dari evaluasi pelaksanaan program MBG, khususnya pada periode Ramadan.
Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, membenarkan penutupan tersebut. Ia menegaskan kasus serupa juga terjadi di daerah lain.
“Demikian,” kata Dadan, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, program MBG bukan sekadar agenda distribusi makanan. Program itu menyangkut standar mutu, keamanan pangan, kelayakan konsumsi, hingga menjaga kepercayaan publik terhadap program pemerintah.
“Setiap pelanggaran ada konsekuensinya, setiap ketidaksesuaian akan ditindak,” demikian ditegaskan melalui kanal resmi pengawasan @sidakbgn.
Secara nasional, terdapat 41 SPPG di 11 provinsi yang juga ditindak karena pelanggaran serupa, terutama terkait penyajian menu Ramadan. Angka ini menunjukkan persoalan tak berhenti di satu wilayah.
BGN melalui Tim Investigasi SidakBGN membuka kanal pengaduan bagi masyarakat yang menemukan ketidaksesuaian dalam penyajian menu maupun persoalan distribusi MBG. Laporan dapat disampaikan melalui laman resmi dan akun Instagram @sidakbgn sebagai bagian dari komitmen transparansi program.
Wartawan telah berupaya meminta konfirmasi kepada Kepala Regional Badan Gizi Nasional Provinsi Banten, Ichsan Rizqiansyah, terkait kabar tersebut. Namun sampai berita ini ditayangkan, pesan singkat dan panggilan telepon belum mendapat respons.
Di tengah semangat berbagi menu bergizi gratis, pengawasan rupanya tak boleh ikut “libur”. Sebab urusan gizi dan kepercayaan publik, sama-sama tak bisa ditakar setengah matang.


