BantenSejarah

Sejarah Kecamatan Ciruas – Awal Mula, Perkembangan & Fakta Penting

×

Sejarah Kecamatan Ciruas – Awal Mula, Perkembangan & Fakta Penting

Sebarkan artikel ini
Sejarah Kecamatan Ciruas – Awal Mula, Perkembangan & Fakta Penting
peta ciruas serang banten

Sejarah Kecamatan Ciruas menyimpan jejak panjang dari masa Kesultanan Banten hingga era modern — dari perkampungan gerabah dan pandai besi, sampai menjelma menjadi ibu kota administratif baru Kabupaten Serang. Melalui perjalanan waktu, Ciruas telah menjadi saksi perubahan struktural pemerintahan, transformasi sosial, serta evolusi ekonomi lokal. Artikel ini akan membahas secara mendalam Sejarah Kecamatan Ciruas, mengurai asal-usulnya, perubahan administratif, serta warisan budaya dan ekonomi yang masih relevan hingga kini.


Asal-usul dan Masa Kesultanan Banten

  • Kecamatan Ciruas — dahulu dieja sebagai “TJIROEAS” — merupakan bagian wilayah yang secara historis termasuk dalam kekuasaan Kesultanan Banten sejak abad ke-16.
  • Bukti historis menunjukkan di desa-desa seperti Bumi Jaya terdapat perkampungan pembuat gerabah, sementara di desa Kepandean berkembang kerajinan pandai besi. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat di Ciruas telah aktif dalam kerajinan tangan dan industri tradisional sejak zaman dahulu.
  • Kehidupan tradisional ini sekaligus mencerminkan pentingnya Ciruas dalam jaringan ekonomi dan budaya Kesultanan Banten — mendukung kebutuhan sehari-hari sekaligus aktivitas perdagangan dan kerajinan lokal.

Era Kolonial — Administrasi Hindia Belanda dan Kawedanan Tjiroeas

  • Pada tahun 1819, Pemerintah Hindia Belanda mengatur ulang struktur administrasi di Pulau Jawa melalui Staatsblad Nederlands Indie Nomor 16 Tahun 1819. Dalam penataan ini, wilayah Banten dijadikan salah satu keresidenan.
  • Dalam keresidenan Banten, dibentuk tiga “regentschap” (kabupaten) — antara lain Kabupaten Serang sebagai “Kabupaten Utara”. Kabupaten ini kemudian dibagi dalam beberapa “kawedanan” (distrik); salah satunya adalah Kawedanan Tjiroeas, yang mencakup wilayah termasuk Ciruas, Kragilan, Kibin, Cikande, dan sebagian Lebakwangi.
  • Kantor pemerintahan kawedanan berada di Desa Citerep — kini bagian dari wilayah Ciruas — dan diyakini menjadi pusat administrasi serta aktivitas pemerintahan pada masa kolonial.

Dengan demikian, pada masa Hindia Belanda, Ciruas bukan sekadar pemukiman biasa, melainkan pusat administrasi distrik dengan kepentingan strategis dalam tata pemerintahan kolonial.


Perubahan Administratif & Status Kecamatan

  • Setelah kemerdekaan dan peralihan sistem pemerintahan, struktur kawedanan seperti Tjiroeas dihapus berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 1963, yang menghapus seluruh keresidenan dan kawedanan di Indonesia.
  • Dengan penghapusan tersebut, wilayah administratif kembali disusun dalam bentuk kecamatan–kabupaten–provinsi, dan nama serta status wilayah pun disesuaikan. Area Tjiroeas kemudian bertransformasi menjadi kecamatan-kecamatan modern, termasuk Kecamatan Ciruas sebagai entitas administratif.

Karenanya, Ciruas bisa disebut sebagai salah satu kecamatan dengan garis sejarah administratif yang panjang — dari distrik kolonial sampai ke wilayah modern di Indonesia merdeka.


Ciruas Saat Ini — Ibu Kota Kabupaten & Demografi

  • Saat ini, Kecamatan Ciruas adalah salah satu dari 29 kecamatan di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
  • Ciruas dipilih sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan kabupaten setelah pemekaran dari wilayah asal — keputusan ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2012 tentang pemindahan ibu kota Kabupaten Serang ke wilayah Ciruas.
  • Secara administratif, Kecamatan Ciruas terdiri dari 15 desa/kelurahan, antara lain: Ciruas, Citerep, Bumijaya, Kepandean, Ranjeng dan lain-lain.
  • Data populasi per tahun 2021 menunjukkan jumlah penduduk sekitar 83.340 jiwa dengan kepadatan sekitar 2.289 jiwa per km².

Menjadi ibu kota kabupaten membawa fungsi strategis baru bagi Ciruas — baik dari sisi pemerintahan, ekonomi, maupun sosial.


Warisan Budaya dan Potensi Lokal: Kerajinan & Pariwisata Desa

  • Kerajinan gerabah di desa seperti Desa Bumi Jaya tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya dan ekonomi lokal. Gerabah Bumi Jaya pun dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai desa wisata edukasi, memadukan warisan tradisional dengan ekonomi kreatif.
  • De­s­a wisata edukasi ini menawarkan pengalaman langsung: pengunjung bisa belajar proses pembuatan gerabah — dari pengambilan tanah liat, pembentukan, penjemuran, hingga pembakaran, sekaligus mengenal nilai sejarah dan kearifan lokal yang melekat pada kerajinan tradisional.
  • Di samping itu, keberadaan persawahan, alam pedesaan, dan lingkungan tradisional memberikan nilai tambah sebagai destinasi wisata lokal yang bisa mendukung pemerataan ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, Ciruas bukan hanya penting secara administratif, tetapi juga kaya budaya dan berpotensi sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.


Penutup

Penelusuran Sejarah Kecamatan Ciruas menunjukkan bahwa wilayah ini telah melewati berbagai fase — dari bagian dari Kesultanan Banten abad ke-16, pusat administrasi pada masa kolonial, hingga transformasi menjadi ibu kota kabupaten modern. Di balik status administratifnya, Ciruas menyimpan warisan budaya yang kuat: kerajinan tradisional, sejarah panjang pemerintahan, dan potensi lokal yang bisa terus dikembangkan.

Bagi siapa pun yang ingin memahami perkembangan wilayah di Banten — terutama seputar dinamika sosial, budaya, dan pemerintahan — Ciruas menawarkan kisah menarik yang membentang sepanjang sejarah. Semoga artikel ini membantu Anda mendapatkan gambaran mendalam dan komprehensif tentang Sejarah Kecamatan Ciruas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *