Ringkasan Cepat:
- Agrinas impor 105.000 kendaraan niaga dari India senilai Rp24,66 triliun.
- KPK lakukan risk assessment untuk cegah potensi korupsi.
- Pemerintah pastikan pembiayaan tak membebani fiskal negara.
JAKARTA | FOKUS.CO.ID – PT Agrinas Pangan Nusantara mengimpor 105.000 kendaraan niaga dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih). Nilai kontrak pengadaan tersebut mencapai Rp24,66 triliun dan mencakup kendaraan pikap serta truk ringan.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto menegaskan lembaganya akan mengawasi potensi risiko korupsi dalam proyek tersebut. Pengawasan dilakukan melalui mekanisme Risk Corruption Assessment (RCA).
“Kami sifatnya melihat, selama itu masih sifatnya potensi, kami punya ada namanya risk assessment korupsi atau RCA, Risk Corruption Assessment,” kata Setyo di Kementerian PAN RB, Jakarta, Selasa (24/2/2026).
Setyo menambahkan, apabila ditemukan potensi rasuah, maka pendekatan yang dilakukan adalah pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran hukum.
“Saya lihat pemerintah sudah merespons, dengan pemerintah sudah merespons kita tunggu saja langkah-langkah berikutnya. Saya kira mereka, pemerintah sudah tahu apa yang terbaik untuk menjaga agar program strategis ini bisa berjalan dengan baik dan berguna bermanfaat untuk seluruh masyarakat gitu,” ujarnya.
Skema Pembiayaan dan Dampak Fiskal
Pemerintah memastikan impor kendaraan niaga tersebut tidak akan membebani kondisi fiskal negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pembiayaan dilakukan melalui pinjaman dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Kementerian Keuangan akan mencicil kewajiban pinjaman sekitar Rp40 triliun per tahun selama enam tahun ke depan. Cicilan tersebut dibayarkan dengan mengalihkan sebagian alokasi dana desa yang telah dianggarkan dalam belanja negara.
Dengan skema itu, pemerintah menegaskan tidak ada tambahan beban fiskal baru, melainkan perubahan mekanisme penyaluran anggaran.
Distribusi dan Tahap Kedatangan Unit

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota menyatakan unit kendaraan dari India sudah tiba di Indonesia dan mulai didistribusikan.
“Sekarang sudah tiba, sudah kita distribusikan juga sebanyak 200, kemudian minggu depan akan tiba lagi 400. Dan sampai akhir bulan ini akan tiba 1.000 unit. Kita akan terus segera langsung kita distribusikan ke tempat-tempat yang sudah siap maupun ke tempat-tempat yang belum siap,” kata Joao.
Menurut Joao, kendaraan tersebut sementara ditempatkan di Komando Distrik Militer (Kodim). Setelah koperasi siap beroperasi, kendaraan akan langsung diserahkan untuk digunakan.
Rincian Kontrak Pengadaan
Kontrak pengadaan mencakup 105.000 unit kendaraan dari dua produsen otomotif India. Rinciannya sebagai berikut:
- 35.000 unit Scorpio Pickup dari Mahindra
- 35.000 unit Yodha Pickup dari Tata Motors
- 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck dari Tata Motors
Mahindra mencatat pemesanan 35.000 unit Scorpio Pickup sebagai ekspor terbesar yang pernah dilakukan perusahaan tersebut.
“Komitmen kami lebih jauh lagi, membangun ekosistem purna jual dan suku cadang yang kuat di seluruh wilayah operasional, lewat kerja sama dengan Agrinas untuk memastikan dampak yang berkelanjutan,” tulis Mahindra.
Alasan Impor dan Negosiasi dengan Pabrikan Lokal

Joao menjelaskan keputusan impor diambil karena kebutuhan mendesak. Hingga kini, 30.712 koperasi telah dibangun, dengan 1.357 bangunan telah berdiri dan siap dioperasikan.
“Semendesak apa? Karena sampai hari ini kita sudah membangun 30.712. Dan yang sudah jadi sampai hari ini adalah 1.357 bangunan sudah berdiri dan kita akan segera me-running-nya, sehingga itu mendesak untuk kita segera suplai,” ujarnya.
Agrinas mengklaim telah mengundang sejumlah produsen otomotif dalam negeri seperti Astra Group, Mitsubishi Fuso, Hino, Foton, Suzuki, hingga Isuzu. Namun, kesepakatan tidak tercapai karena keterbatasan kapasitas produksi dan harga.
“Mereka (produsen lokal) cenderung merasa bahwa membeli bulk itu tidak ada bagi mereka, tetap dihitung per unit. Menurut saya itu tidak fair,” tegas Joao.
Ia menambahkan bahwa sebagian besar kapasitas produksi kendaraan niaga ringan saat ini telah terserap pasar, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan kebutuhan sektor pertanian.
“Sampai dengan terakhir kami tidak mendapatkan kesempatan untuk diberikan harga yang khusus, sehingga kami terpaksa melakukan impor dari luar, khususnya India,” tutupnya.





