Pemuda LIRA Angkat Bicara Soal Film “Kau Adalah Aku yang Lain”

Jakarta, fokus.co.id – Video pemenang kategori film pendek dalam Police Movie Festival IV 2017, yang berjudul Kau adalah Aku yang Lain, telah menuai banyak pro dan kontra. Salah satu kelompok yang mendukung penayangan video berdurasi 7 menit 41 detik di youtube itu datang dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Pemuda Lumbung Informasi Rakyat (LIRA).

Indra Lesmana, Ketua Umum DPP Pemuda LIRA menilai pro-kontra terhadap makna yang terkandung dalam sebuah film, adalah lumrah. Khusus film pendek yang dimaksud, jika ditonton dengan seksama dan utuh, sebenarnya seluruh kontennya cukup baik dilihat dari seluruh sisinya, baik emosi, sosial, komunikasi, hingga muatannya.

“Menurut saya film ini sangat layak menjadi sang juara. Film yang juara pasti dapat membawa perasaan penontonnya. Emosi, sedih, tertawa, takut, dan sebagainya,” kata Indra, saat diwawancarai media di Tebet, Jakarta Selatan pada, Minggu (1/7).

Selain itu, dia mengungkap film tersebut, tidak ubahnya film-film lainnya, terbuka untuk dikomentari. Meskipun demikian dia menyarankan agar film tersebut ditonton hingga selesai.

“Dimana-mana yang namanya film tidak bisa ditonton setengah-setengah, harus ditonton hingga selesai. Jika menonton film tidak sampai tuntas dapat dipastikan penontonnya tidak akan bisa mengambil makna yang benar dari seluruh konten yang disuguhkan,” tuturnya.

Lelaki berkulit coklat ini menyebutkan jika film ini justeru malah menunjukkan sikap toleransi Umat Islam yang sesungguhnya yang penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan dengan melindungi orang yang sedang sekarat dan membutuhkan akses jalan untuk segera mendapat perawatan medis yang harus membelah shaf pengajian, meski agama dan keyakinan orang tersebut berbeda, tetapi polisi dan beberapa jamaah yang notabene beragama Islam mampu memberikan pengertian kepada orang tua yang menghalangi jalan, hingga bersedia memberikan jalan.

 “Saya heran dengan beberapa kalangan yang kontra film ini dengan menganggap telah melecehkan Islam. Dimana letak melecehkannya? Apalagi sampai menuding film ini sebagai bagian dari upaya pihak kepolisian memberi stigma intoleran kepada umat Islam,” sesal Indra.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.