IKAN HIAS MUHAMMAD NUR: HOBY, KEJUJURAN DAN KEPERCAYAAN

 

M NUR

14 tahun bekerja sebagai buruh sebuah pabrik kosmetik di Bekasi, tak membuat banyak perubahan dalam hidup M Nur. Akhirnya pada tahun 1998 ia memutuskan berhenti bekerja di perusahan tersebut. Setelah itu berbagai jenis pekerjaan serabutan lainnya pun ia geluti. Mulai dari kuli bangunan, hingga sopir angkot.

Kondisi ekonomi keluarga di kampungnya tak memungkinkan M Nur menyelesaikan Sekolahnya. Ini tentu berimbas kepada nasibnya. Akhirnya ia memutuskan merantau dari kampungnya, di Solok Sumatera Barat.

Ia menyadari betul tak mungkin meniti karir dengan pendidikan yang terbatas. “saya menyesal menjadi orang yang tidak sekolah. Saya tidak mau anak-anak saya bernasib sama seperti saya,” Ungkap M Nur pada percakapan petang itu di rumahnya, kawasan Rawa Bugel, Harapan Jaya, Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi.

Sejak awal merantau, M Nur tinggal di lingkungan yang dekat dengan pusat penjualan ikan hias di Jakarta Timur. Walaupun hanya seorang buruh pabrik, M Nur juga mulai menyukai ikan hias, dan juga mempunyai sebuah aquarium kecil di kamar kontrakannya. Di luang liburnya ia selalu ngobrol dengan para pedagang ikan hias atau para pembeli ikan hias yang memang tak jauh dari rumahnya.

IMG_0168

Barulah pada awal tahun 2000, setelah berhenti menjadi buruh pabrik, dan melakoni berbagai jenis pekerjaan serabutan lain, akhirnya ia terfikir untuk mencoba menetaskan sendiri ikan hias. “saya tidak punya ketrampilan lain. Harus dicoba,” ungkap M Nur. Ia pun langsung banting stir mencoba peruntungan dengan mengandalkan hobinya ini.

Ia langsung menghubungi beberapa teman para penghobi ikan hias yang pernah dikenalnya dulu. Dari masukan dan saran yang ditampungnya, ternyata dalam memelihara benda hidup seperti ikan hias ini, uang tetaplah berada di urutan terakhir. Yang pertama adalah bisa merawat dulu. Setelah itu baru belajar cara menelorkan. Langkah berikut adalah menetaskan, dan terakhir merawat anak yang sudah menetas hingga berumur beberapa hari. Barulah pada bagian terakhir semuanya bisa jadi uang.

Ikan Hias Discus1

Dengan modal hobi, kepercayaan dan kejujuran lah, 12 tahun lalu M Nur merangkak merintis usahanya ini. Hampir dibilang tak memakai modal uang. Untuk indukannya, ia meminjam kepada temannya dengan hasil telor yang menetas anak dibagi dua. Ini bisa dilakukan karena temannya percaya bahwa M Nur memang pantas dan telaten merawat ikan hias. Sedangkan untuk tempat penetasan dan perawatan, ia juga meminjam beberapa aquarium bekas milik temannya yang memang tak terpakai.

Tahun-tahun awal usahanya bukan tanpa kendala. “saya cari sendiri kutu air ke rawa-rawa untuk makan telor ikan yang baru menetas. Kadang setiap malam badan gatal-gatal, karena seharian berendam di rawa yang kotor,” kenangnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perlahan usahanya mulai menampakkan hasil. Ia mencicil rumah di Harapan Jaya, Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi yang luas tanahnya 200 meter persegi. Saat ini hampir seluruh halaman bahkan hingga ke ruang tamu terdapat lebih dari 200 aquarium dari berbagai ukuran dan beberapa kolam dari beton untuk beberapa jenis induk ikan hias.

Beberapa jenis ikan hias pernah diternakkan oleh M Nur. Menurutnya saat ini yang sedang trend di pasaran ikan hias adalah jenis Spatula, alligator, yang kepalanya seperti moncong buaya, politerus, fish doctor dan discus.

Untuk jenis indukan Spatula, ditelorkan dan ditetaskan 3 kali dalam setahun, bisa menghasilkan 2000 telor. Dari ratusan telor yang menetas, satu atau dua ekor anaknya pasti terjadi penyimpangan. Artinya warnanya putih, berbeda sendiri dari yang lainnya. Pada usia 6 minggu, bibit ikan hias spatula ini sudah mencapai panjang 15 sentimeter. Dengan ukuran itu harga satu ekor anak spatula yang menyimpang ini tak kurang dari 10 juta rupiah!

Karena mempunyai hasil penetasan yang sering menyimpang, indukan spatula yang dimilikinya ini pernah ditawar satu milyar rupiah. Tapi tentu saja M Nur tak mau menjualnya. “Itu pendaringan saya, ga mungkin saya jual. Kalau ada anaknya yang menyimpang itu adalah bonus langsung dari Yang Maha Kuasa. Saya dan istri bisa daftar naik haji dari bonus itu,” ungkapnya bangga.

fishdoctor

Jenis ikan hias lain yang dirawatnya saat ini sudah menghasilkan omzet berkisar 20 juta perbulannya. Saat ini ikan hias hasil penetasan dari aquarium M Nur sebagian diekspor. “kalau ekspor lewat orang lain. Saya tidak berani ekspor sendiri, karena memang tidak tahu caranya. Apalagi saya memang tidak sekolah,” tutur M Nur merendah.

Untuk pasar lokal sekarang yang lagi trend adalah fishdoktor. Jenis ikan yang untuk kesehatan kulit. Orang yang kulitnya ingin dibersihkan biasa berendam di kolam yang dipenuhi oleh jenis ikan kecil ini. Ini sering kita jumpai di pusat-pusat keramaian. Bibit fishdoctor dengan ukuran 1 inchi biasanya dijual 400 rupiah per ekor.

Peluang usaha ikan hias di Bekasi masih sangat terbuka lebar. Bahkan kota Bekasi sudah punya pasar khusus ikan hias yang disebut Pusat Promosi Ikan Hias (PPIH) di Rawalumbu kota Bekasi. Tak mau ketinggalan, Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi pada tanggal 27 hingga 29 Agustus 2015 lalu juga menggelar pameran ikan hias  bertajuk “Aquabegs 2015” dengan tema “Fish Go International” di salah satu pusat perbelanjaan Kota Bekasi.

Ikan Hias discus3

Saat ini Komunitas budidaya ikan hias di Kota Bekasi, mengekspor rata-rata 10 juta ekor ikan per bulan guna memenuhi permintaan pasar mancanaegara. Ikan hias ekspor tersebut berasal dari 500 pebudidaya ikan hias yang tersebar di 12 kecamatan yang ada di kota Bekasi.
Mungkin Kota Bekasi akan lebih indah jika memiliki lebih banyak ikan hias.

SUKWAN HANAFI

 

Mungkin Anda Menyukai

2 tanggapan untuk “IKAN HIAS MUHAMMAD NUR: HOBY, KEJUJURAN DAN KEPERCAYAAN

  1. saya minat mau belajar nangkarin ikan discus , minta alamat penangkar ikan tersebut , trimakasih sebelumnya .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.