HATI BERGETAR DI KOTA BLITAR

 

roso-daras-ziarah-ke-blitar-2

Madinah dan Blitar… dua kota istimewa. Yang satu terletak di Saudi Arabia, sedangkan satunya di bumi Indonesia. Bumi Madinah yang menyimpan riwayat pertumpahan darah dan air mata, adalah bumi yang dipilih Tuhan untuk memeluk jazad manusia termulia, Nabi Muhammad SAW. Sementara, bumi Blitar dipilih Tuhan mendekap hangat jazad sang proklamator, Bung Karno.

Meski beda resonansi, adalah tidak dibenarkan kita memasuki kedua kota itu tanpa hati yang bergetar. Setidaknya, itu yang saya rasakan. Memasuki Madinah, segenap pikiran dan jiwa kita, harus langsung disiram pemahaman bahwa inilah kota tempat Islam dibesarkan. Kota tempat darah dan air mata para syuhada tertumpah, dan kota peristirahatan terakhir Sang Nabi SAW.

Akan halnya Blitar…. Bukan saja karena ada Candi Panataran, Monumen Trisula, ataupun Pantai Jolosutro, lebih dari itu, di kota ini Bung Karno dimakamkan. Di komplek makam yang terletak di antara Jl. Ir. Soekarno dan Jl. Kalasan itu juga disemayamkan bapak-ibu Putra Sang Fajar, R. Soekeni Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Tiga manusia hebat. Raden Soekeni yang memiliki garis trah Sultan Kediri, adalah seorang guru dengan komitmen yang sangat tinggi terhadap pentingnya pendidikan bagi putranya. Sebagai guru berprestasi, Soekeni pun mewariskan otak encer pada diri Sukarno. Demikian pula sang ibu, Idayu. Sebagai kerabat Banjar Bale Agung, Singaraja, ia nekad menikah dengan pemuda beda suku, dan membesarkan Sukarno dengan cinta yang tiada akhir.

 

Semerbak wangi bunga di atas pusara Bung Karno, ditambah semilir embusan angin sore, membuat siapa pun kerasan berlama-lama di sekitar nisan Bung Karno yang diapit nisan bapak-ibunya. Dinding kaca yang dulu menutup keempat sisi pendopo-cungkup, kini sudah dibongkar. Karenanya, para peziarah bisa mendekat ke nisan ketiga manusia utama milik bangsa kita itu.

Selain tabur bunga dan berdoa… para peziarah pun diperkenankan berpose, berfoto-ria di dekat nisan Sang Proklamator dan kedua orang tuanya. Di ujung dekat gerbang masuk komplek makam, terdapat perpustakaan proklamator Bung Karno. Cukup melegakan, ternyata tiga buku karya saya ada dalam koleksi buku perpustakaan ini. Ketiga buku itu adalah, Aktualisasi Pidato Terakhir Bung Karno: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarh (2001), Bung Karno, Serpihan Sejarah yang Tercecer, The Other Stories-1 dan 2 (2009 dan 2010).

“Maaf Bung, saya tidak bisa berlama-lama di pusaramu…. Tunggu Bung, saya akan kembali.” (ROSO DARAS)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.