ANDJAS ASMARA DAN ZIARAH “RUMAH TERAKHIR” SANG LEGENDA

anjas - ym

ANDJAS Asmara telah lama melepaskan diri dari rasa berdosa ketika pernah melukai hati banyak orang. Dia terlihat segar; tawa dan candanya masih seperti dulu. Bertahun-tahun dia melupakan peristiwa yang membuat hatinya remuk dan trauma yang berkepanjangan. “Jangan lagi kau singgung cerita lama itu,” kata Andjas.

Sabtu pekan lalu, saya bertemu Andjas di lapangan sepak bola Bea Cukai. Dia segera menutup rapat-rapat hatinya ketika ia tahu saya akan kembali mengungkap apa yang pernah ia alami. Harum rumput stadion yang berada di kawasan Rawamangun itu, ikut melupakan peristiwa yang menyakitkan yang telah membuat ia bertahun-tahun menahan dada yang sesak.

ANJAS3

Sore itu, saya juga bertemu Ipong Silalahi, Oyong Liza, Sarman Pangabean, Sutan Harhara, Ronny Paslah, Yudo Hadianto, GH Sutejo. Juga generasi berikut, di antaranya, Herry Kiswanto, Rully Nere, Zulkarnain Lubis, Marselly Tambayong, David Sulaksmono, Berti Tutuarima, Ricky Yakobi, Asmawi Djambak, Didik Darmadi, Aji Ridwan Mas, Tias Tano Taufik.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya dengan nama-nama yang belum saya sebut, mereka adalah seniman-seniman bola yang telah mengharumkan Indonesia di lapangan sepak bola. Bertemu para legenda yang saya kenal baik, lebih mengasyikkan ketimbang bergunjing tentang sepak bola nasional yang masih saja diperebutkan manusia-manusia yang sebenarnya tidak pernah berbuat apa-apa untuk sepak bola di negeri ini.

Andjas Asmara – dia lahir di Medan, 30 April 1950 – adalah masa lalu keindahan sepak bola Indonesia. Meski ia sudah melupakan kegagalan penalti yang membuat jiwanya tertekan, tapi peristiwa itu tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Andjas, waktu itu ia berusia 26 tahun, menjulang di tengah lapangan. Rambutnya riap-riap, tergerai ke bahu. Bola ada di kakinya, siap untuk ditendang. Matanya mencorong ke gawang Korea Utara. Begitu pula mata 120 ribu lebih penonton yang memadati Stadion Utama Senayan (kini Stadion Gelora Bung Karno) — kapasitas stadion itu 110 ribu orang. Semua menahan napas. Semua menantikan detik-detik fenomenal penalti Andjas Asmara, yang akan mengantarkan Indonesia ke Olimpiade Montreal 1976.

 

anjasmara_photo2

Ia menembak sepenuh keyakinan ke gawang lawan. Gagal! Terkesiap sesaat, penonton melolong tak terkira dalam pekik jerit kesedihan oleh antiklimaks yang begitu memukul. “Saya mengecewakan banyak orang,” kata Andjas ketika saya untuk pertama kali — setelah bertahun-tahun — bertemu dia pada 2010. Penonton remuk redam. Andjas lebih remuk. Satu bulan dia tak mampu menyentuh bola, tak bisa tidur

Anak kesayangan Wiel Coerver — pelatih tim nasional pra-Olimpiade 1976 asal Belanda — itu kemudian kembali ke lapangan. Tapi hubungan Andjas dan bola seperti telah antiklimaks. Cedera menyerangnya saat uji coba tim PSSI melawan klub Arseto menjelang Piala Asia 1977. Ketika kejuaraan Piala Asia berlangsung pada 1977 di Bangkok, Andjas hanya duduk di bangku cadangan.

Dia berupaya menjalani operasi di Jakarta, tapi gagal. Operasi dilanjutkan di Utrecht, Belanda. Lagi-lagi gagal. “Bahkan, rekomendasinya, saya tidak boleh main sepak bola lagi,” kata Andjas.

Pada 1970-an, Andjas adalah bintang yang dipuja. Mantan pemain nasional Sutan Harhara terang-terangan memujinya: “Ia layak dikagumi sebagai pemain.”

Sofyan-Hadi_photo

Menempati posisi gelandang kiri, ia pernah membela klub Jayakarta dan Persija. Sebelum hijrah ke Jakarta, ia bermain untuk Medan Utara dan PSMS Medan. Pemilik klub Jayakarta, F.H. Hutasoit, tertarik pada penampilan Andjas saat PSMS Medan melawan Persija. Dia lalu ditarik klub kebanggaan masyarakat Jakarta itu.

“RUMAH TERAKHIR”

Bertemu Andjas Asmara, mengingatkan saya pada sejumlah nama yang telah tiada. Saya ingin meluangkan waktu tuk sejenak berada di makam para legenda seperti yang pernah saya lakukan; singgah ke pemakaman San Diego Hills Memorial Park, setiap kali ada kesempatan pergi ke Karawang.

Saya menyambangi makam drg. Endang Witarsa dan Roland Hermanus Pattinasarany yang lebih dikenal dengan nama Ronny Pattinasarany. Keduanya berada di Heroes Plaza, area pemakaman khusus bagi orang-orang yang telah mengharumkan nama bangsa dan negara. Tak sulit saya menemui makam keduanya seperti saya begitu mudah menemui dokter Endang di Petak Sin Kian dan Ronny di sekitaran Senayan, di akhir-akhir hayat dua legenda yang saya kagumi ini.

Endang Witarsa — lahir di Kebumen, 16 Oktober 1916, dengan mama Liem Soen Joe — adalah pelatih tim nasional Indonesia (1964-1973), pelatih klub UMS (1951-2008), dan pernah membawa Persija Jakarta juara nasional pada 1964. Ronny Pattinasarany adalah pemain nasional sepanjang 1971 – 1984. Ronny lahir di Makassar pada 9 Februari 1949.

Endang Witarsa dan Ronny yang pernah berseteru menjelang tim nasional berangkat ke SEA Games Manila 1981, pergi pada tahun yang sama dan berada di tempat yang sama; Heroes Plaza C26 dan C25. Dokter, demikian drg. Endang biasa dipanggil, guru dan bapak bagi pemain-pemain nasional, pergi pada 2 April 2008. Sedangkan sang murid, Ronny menyusul pada 19 September 2008.

Makam adalah “rumah terakhir” bagi para seniman sepak bola. Di sana tidak ada yang mencetak gol, dan tak ada kegembiraan. Hanya kepedihan yang terlihat karena ada yang pergi. Pemakaman menjauhkan sang bintang dari stadion.

Saya ikut mengantar Soetjipto Suntoro ke rumahnya yang terakhir di pemakaman Tanah Kusir pada siang yang terik, 12 November 1994. Setelah bertahun-tahun berlalu, saya tetap meyakini bahwa makam adalah rumah terakhir bagi para superstar, dan hanya air mata yang mengiringi kepergian mereka.

Waktu itu, saya masih ingat Sophan Sophiaan tertunduk, di samping saya berdiri. Wajah aktor, yang juga telah pergi, itu mencerminkan suasana hatinya yang sedang berduka. Dia terdiam ketika sahabatnya, Soetjipto Suntoro, perlahan-lahan dikebumikan. “Dia sahabat yang menyenangkan. Dia pernah meminjamkan saya sepatu bola,” katanya. Sophan, waktu itu, terlihat menahan air matanya.

Soetjipto Suntoro pergi tak membawa apa-apa. Mas Tjipto — begitu saya memanggil Soetjipto — hanya meninggalkan nama besar dan kebanggaan. Gareng — nama lain Soetjipto — adalah pemain sepak bola jalanan di kawasan Kebayoran Baru yang ditemukan Djamiat Dahlar. Bakat Gareng kemudian dipoles Toni Pogacnick. E.A. Mangindaan dan drg Endang Witarsa adalah dua dari banyak pelatih yang menyukai Gareng. Soetjipto pula yang menjadi anak kesayangan T.D. Pardede, pemilik klub Pardedetex di Medan.

Soetjipto bermain untuk Persija Jakarta ketika berusia 16 tahun. Dia memperkuat tim nasional dalam lawatan ke berbagai negara di Eropa. Dia juga menjadi kapten tim nasional ke Asian Games Bangkok 1970 dan terpilih memperkuat Asian All Star di Singapura.

Saya juga ikut melepas kepergian Iswadi Idris, yang “pulang” ke Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat, 12 Juli 2008 dan ikut mengiringi kepergian Ronny Pattinasarany pada 19 September 2008. Sang legenda pergi ketika dia tak lagi berdaya menghadapi kanker hati yang menyerang paru-paru dan tulang belakangnya.

Saya pergi menemui Risdianto jika ingin kembali mengenang Iswadi Idris dan Ronny Pattinasarany. Ris, salah satu legenda yang juga saya kagumi, tak hanya mengagumi Iswadi dan Ronny, tapi juga merasakan hubungan emosional dan ikatan batin keduanya. Ris ingat ketika bersama Iswadi menjenguk Ronny yang sedang terbaring di rumah sakit. “Iswadi hanya diam ketika Ronny memintanya mendekat,” kata Risdianto.

Saling membagi rasa dan perasaan terlihat ketika Iswadi ikut mengantar Ronny yang akan berangkat berobat ke Cina untuk kedua kalinya pada 22 Februari 2008. Tapi keduanya tidak sempat mendekat karena Ronny sudah lebih dahulu berada di ruang keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta. Iswadi hanya melambaikan tangan dari balik kaca, dan itu merupakan pertemuan terakhir Ronny dan Iswadi.

Iswadi tutup usia pada 11 Juli 2008 ketika Ronny sedang mendapat perawatan di RS Modern Hospital, Guangzhou, Cina, dan 70 hari kemudian, pada 19 September 2008, Ronny pergi untuk selama-lamanya. “Keduanya pergi di hari yang sama, hari Jumat,” kata Risdianto.

Bersama Rully Nere pula saya merasakan lapangan sepak bola Petak Sinkian terasa sepi ketika tak terlihat lagi Fam Tek Fong (Hadi Mulyadi) dan drg Endang Witarsa (Liem Soen Joe) di sana. Obrolan sepak bola bersama Pak Mul dan dokter Endang di lapangan yang dulu kebun singkong dan sudah ada sejak 1913 itu kini hanya tinggal kenangan.

Rabu, 18 November 2015, saya melihat untuk terakhir kali Sinyo Aliandoe di Ruang Duka Gabriel, Rumah Sakit Carolus, Salemba, Jakarta, tempat ia disemayamkan, setelah mendapat kabar kepergian itu dari Rully Nere dan Hermansyah.

Sinyo–lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1940–adalah pelatih bertangan dingin. Dia adalah pelatih hebat. Dia lebih mengutamakan hitungan-hitungan teknis di lapangan ketimbang menyandarkan diri dalam ungkapan “bola itu bundar”. Dia menghitung benar setiap jengkal lari pemain dalam proses mencetak gol. Sinyo dikenal memiliki kemampuan mengubah pola permainan pasukannya seketika hanya dengan memanfaatkan pergantian pemain.

Sinyo sangat pandai meramu pasukannya sebagai serdadu yang menakutkan. Hermansyah, Ristomoyo, Didik Darmadi, Warta Kusuma, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, Rully Nere, Marzuki Nyakmad, Noah Meriem, Zulkarnain Lubis, Herry Kiswanto, Ferrel Raymond Hattu, dan Dede Sulaiman dia jadikan sebagai kumpulan pemusik.

Bak sebuah orkestra, mereka memainkan musik berirama ketika Sinyo–bersama asisten Bertje Matulapelwa dan Salmon Nasution–tampil sebagai dirigen. Sinyo mengantar tim nasional Indonesia menempati juara sub grup III Asia yang sangat fenomenal dan tidak bisa kita lupakan begitu saja.

Soetjipto, Iswadi, Ronny, Tek Fong, dan banyak pemain yang telah pergi, sebut saja Ramang, Abdul Kadir, dan Yakob Sihasale, tidak akan pernah kembali. Juga para dirigen tim nasional — dua dari banyak nama adalah Sinyo Aliandoe dan Bertje Matulapelwa — pergi meninggalkan nama besar.

Legenda-legenda sepak bola Indonesia telah pergi dan saya tetap menyimpan catatan perjalanan hidup mereka; pahlawanku, tidurlah dengan nyenyak …

YON MOEIS
@yonmoeis

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.