PAINI, IBUNDA PARA DISABILITAS

Paini4

 

Teras rumah sederhana berlantai keramik warna hitam sore itu masih basah oleh sisa hujan yang turun dari langit Bekasi. Dari dalam rumah berdinding plasteran semen tanpa cat dan plafon itu mengalun suara musik dangdut yang keluar dari radio tua. Sepasang balita bercanda riang duduk dilantai dingin yang baru saja selesai dilap oleh seorang remaja perempuan.

paini5

Rizky (5), balita yang tengah bermain dengan Puput, adalah salah satu balita penyandang disabilitas penghuni rumah ini. Sejak lahir, berbagai penderitaan sudah dilaluinya. Saat baru lahir di salah satu Rumah Sakit di Jakarta, ia tidak bisa langsung dibawa pulang oleh Neneng, ibunya yang juga penyandang disabilitas, karena tidak mampu membayar biaya persalinan.

Saat ini, ia menggunakan alat khusus yang dipasang untuk bisa makan. Balita berusia 5 tahun yang hanya bisa mengkonsumsi makanan cair ini salah satu dari 40 orang penyandang disabilitas yang tinggal bersama dengan Paini, Ibunda Para Penyandang Disabilitas.

Paini, perempuan kelahiran Wonogiri, Juni 44 tahun yang lalu ini juga bukan seorang yang memiliki fisik yang sempurna. Dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya, ia berusaha menyempurnakan diri dengan mengabdikan hidup untuk mengayomi penyandang disabilitas lainnya. “Para penyandang disabilitas membutuhkan tempat untuk mereka bertumbuh dan berkembang seperti manusia normal lainnya. Saya hanya membantu mereka untuk bangkit, bukan semata menaungi mereka, tapi juga menyiapkan diri mereka untuk mandiri,” ucapnya merendah.

paini2

Paini juga merupakan penyandang cacat bawaan sejak lahir. Jari tangan dan telapak kakinya yang kecil, membuatnya mengalami kesulitan ketika berjalan serta melakukan aktivitas lainnya. Kondisi ini membuatnya harus berjuang keras mencari penghidupan. Akhirnya alumni Rehabilitation Centrum Prof. Dr. Soeharso Solo ini hijrah dan mengadu nasib di Jakarta tahun 1992. Bermukim di Jakarta ternyata tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Ia seringkali ditolak ketika mengajukan lamaran untuk bekerja. “Masyarakat belum percaya penyandang disabilitas mampu bekerja, mereka melihat keterbatasan yang dimiliki sebagai vonis total bahwa kaum disabilitas tidak mampu bekerja. Memang butuh upaya ekstra untuk penyandang disabilitas menuntaskan pekerjaannya, namun dengan ketekunan dan pembiasaan diri hal ini bisa diatasi,” jelasnya.

Realita ini mendorong Paini mendirikan sebuah kelompok usaha bersama (Kube) khusus penyandang cacat pada tahun 2005. Unit usaha yang berada di Kampung Bojong Menteng Gang AC Lengkeng RT 01 RW 02 no. 37 Kecamatan Rawa Lumbu Kota Bekasi mengusung label MZI,  akronim dari Muhammad Zaid Ijlal anak bungsunya. “MZI menjadi tulang punggung utama operasional kami disini, selain sebagai media pengkaderan disabilitas agar mandiri sebelum dilepas menjadi pelaku kreatif,” lanjut Paini.

paini6

Berbagai upayanya dalam memberdayakan penyandang disabilitas membuatnya meraih segudang penghargaan. Diantaranya Wanita Inspiratif Kartini Awards 2012, Insan Kreatif Dakta Awards 2013, Disabilitas Teladan Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2015, dan Disabilitas Terbaik Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia 2015. Dan saat ini ia juga dipercaya sebagai Ketua DPC Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kota Bekasi.

paini10

Cipto, salah satu penyandang disabilitas yang asal Boyolali, Jawa Tengah, sekarang aktif di Kelompok Usaha Bersama ini. Sebagai penyandang disabilitas daksa dengan kaki dan tangan tidak sempurna sempat menjadi ojek di pintu tol Bekasi Timur. Namun sekarang dengan bekal pelatihan yang pernah diikuti, ia menjadi pelatih atlit tenis meja disabilitas netra serta  memproduksi alat bantu untuk disabilitas daksa. “Sejak kenal dengan Bu Paini dan mengikuti pertemuan bulanan bersama teman-teman disabilitas, tumbuh semangat hidup yang lebih baik dari sebelumnya.” Ujar Cipto bersemangat sambil membantu Paini mengemas makanan ringan produksi Kube.

Selain mengembangkan unit usaha Kube Disabilitas yang memproduksi aneka makanan ringan, handycraft, asessories dan alat bantu disabilitas, perempuan berhijab ini juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai forum kreatif. “Saya sedang mensosialisaikan program bagi orangtua dan keluarga penyandang disabilitas agar berlaku adil dan tidak diskriminatif. Seringkali justru sikap keluarga yang menjadikan penyandang disabilitas minder dan tertutup. Kita mulai dalam lingkup keluarga dulu,” jelas Paini yang terlahir disabilitas.

Paini menambahkan disabilitas juga memiliki hak yang sama untuk bersaing di era digital sekarang, “Program pertemuan bulanan yang digagas di Kube juga butuh penyegaran dan pengembangan dengan pelatihan yang sesuai dengan kondisi kekinian. Pelatihan e-commerce, potografi, dan software sangat kami butuhkan saat ini. Semoga ada pihak yang membantu kami mewujudkan cita-cita ini.” lanjutnya bersemangat dan yakin.

Di usianya yang tidak muda lagi Paini justru semakin bersemangat memperjuangkan hak disabilitas di Bekasi maupun di tingkat Provinsi, “Tidak ada waktu untuk berhenti, saya harus terus bekerja bukan semata untuk dilihat, tapi untuk bertahan hidup dalam pusaran jaman bersama saudara-saudara disabilitas lain.” ujarnya.

paini3

“Kami sadar akselerasi diperlukan untuk disabilitas meraih kehidupan yang lebih baik, tapi akselerasi juga harus mempertimbangkan kualitas. Intinya latih, bina, dampingi dan pantau secara serius jangan dilepas begitu saja setelah mereka mengikuti pelatihan.” ungkap Paini mensikapi banyaknya program bagi disabilitas yang tidak tepat sasaran.

(CAPRIT SANTOSO)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.