KOKOHNYA SURAU KAMI

_MG_0025

“Belajar atau menimba ilmu tidaklah selalu harus bernaung di bawah bangunan kokoh dan megah. Tempat mengaji ini di bangun diatas sepetak lahan terlantar”  

Sekelompok anak tampak asyik bermain layang-layang di ujung tanah kosong yang dipenuhi rumput setinggi lutut itu. Sedangkan beberapa anak lainnya tampak berlarian saling mengejar satu sama lainnya. Awan gelap masih menutupi langit sore itu, setelah paginya diguyur hujan lebat. Lahan kosong seluas kurang lebih satu hektar ini yang dikelilingi tembok ini, seakan menjadi pusat kegiatan dan aktivitas bagi warga di Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi.

_MG_0029

Menurut Diman, salah seorang warga di lingkungan ini, beberapa warga berinisiatif mendirikan sebuah sawung panggung dengan memanfaatkan lahan kosong milik perusahaan pengembang yang belum dibangun ini. “Beberapa warga akhirnya sepakat membangun rumah panggung untuk tempat mengaji anak-anak sore hari, karena di rumah pak ustad sudah terlalu sempit,” ungkapnya.

Setiap sore panggung terbuka ini dijadikan tempat mengaji bagi anak-anak di lingkungan sekitar. Sebagian besar anak-anak ini berasal dari keluarga kurang mampu. Orang tua mereka ada yang berprofesi sebagai tukang becak, buruh bangunan dan pekerjaan serabutan lainnya. Bahkan diantaranya terdapat 17 orang anak yatim.

Selain untuk mengaji, rumah panggung ini juga dimanfaatkan warga untuk sekedar duduk-duduk di waktu luang, bahkan untuk rapat bagi warga pada kesempatan tertentu. “Kalau malam biasanya bapak-bapak ngobrol di tempat ini. Lumayan, ada tempat buat ngumpul dan bersilaturahim sesame warga,” ungkap Diman.

_MG_0030

Adalah Ustadz Muhammad Sutikno yang sehari-hari berprofesi sebagai penjahit yang menjadi guru mereka dalam melafazkan ayat-ayat suc Al Quran dengan baik dan benar. Guru mengaji yang pernah belajar mengaji di Pati, Kudus Jawa tengah ini sudah mengajar anak-anak mengaji sejak tahun 1993. “saya dulu belajar mengaji dengan metode yang diajarkan oleh Mbah Arwani di Pati. Kemudian cara membaca dengan memakai kita Yanbu’a ini saya ajarkan kepada anak-anak,” jelas Ustadz Sutikno.

Metode Yanbu’a tidaklah berbeda dengan pelajaran yang diajarkan dengan sistim Iqro yang sekarang banyak diterapkan kepada anak-anak yang baru belajar membaca Al-Quran. Metode ini lebih menekankan pada lafaz membaca huruf arab dengan benar. “Banyak kalimat dan huruf Al Quran hampir mirip cara membacanya. Kadang orang membacanya datar aja, padahal cara membaca seperti itu membuat artinya jadi berbeda,” terangnya.

Dalam pelajaran membaca Al-Quran yang disampaikan Ustadz Sutikno, cara melafazkan setiap huruf yang terdapat dalam kitab suci adalah bagian terpenting yang harus dikuasai, dan anak-anak lebih mudah dibentuk lidahnya dalam mengucapkannya secara benar.

_MG_0045

Awalnya, Sutikno mengajar mengaji ketika ia ngontrak di sebuah rumah petakan di daerah Depok pada awal tahun 1976. Ia melihat anak pemilik rumah yang setiap hari pergi belajar mengaji, tetapi tidak bisa juga membaca huruf-huruf Al-Quran. “Akhirnya saya bilang sama pemilik rumah, biar saya ajarin ngaji. Trus setelah bisa beberapa anak tetangga lainnya ikut belajar sama saya,” kenang Sutikno.

Ketika pertama kali pindah ke Bekasi, ia melihat anak-anak hanya bermain di sore hari. Akhirnya ia meminta izin kepada warga untuk mengajarkan mereka mengaji di sela kesibukannya menjahit. “awalnya saya hanya mengajarkan para orang tua. Tapi karena banyak merekayang sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya anak-anak yang jadi belajar. Rumah saya sampai penuh kalau anak-anak lagi datang semua,” paparnya.

Berdirinya panggung hasil gotong-royong kaum bapak warga Rt …ini membuat anak-anak lebih betah belajar mengaji. Ruang terbuka dengan angin yang terus berhembus, serta pemandangan yang lepas membuat mereka suka berlama-lama di tempat ini, “Namanya juga anak-anak. Maunya main di luar aja, lari-larian. Kita berharap kalau belajar di ruang lebih terbuka mereka lebih betah belajar ngaji,” ungkap Sutikno.

Sutikno mengakui kendala menghadapi anak-anak ini adalah karakter mereka yang jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena mereka jarang komunikasi dengan orang tua yang kebanyakan adalah pekerja kelas bawah. “Kita dituntuk untuk mengetahu karakter mereka. Ada yang pendiam, bandel dan banyak yang masih labil,” paparnya.

_MG_0043

Setiap anak yang belajar mengaji tidak dipungut bayaran alias gratis. Tapi hal ini juga menyebakan anak-anak datang sesukanya. Kadang mereka lebih memilih untuk main daripada belajar mengaji. Atau paling tidak mereka belajar mengaji selepas maghrib di Musholla. “kalau saya memungut bayaran itu sama saja denga menzolimi mereka, karena sebagian besar mereka adalah anak kurang mampu, anak tukang cuci, buruh bangunan, tukang becak, ojek bahkan anak yatim. Tapi beberapa orang tua murid yang mampu tetap memberikan sumbangan untuk pengajian ini. Bagi saya rejeki itu relative, yang penting tidak kelaparan,” ungkap guru mengaji berusia 57 tahun ini.

Bagi Sutikno kondisi anak-anak yang ada di lingkungannya harus mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah. Kesibukan orang tua mereka dalam mengais rejeki, membuat mereka jarang memperhatikan pendidikan anaknya di luar jam sekolah. “Mudah-mudahan disini bisa ada Taman pengajian Al-Quran (TPA) yang resmi dengan guru mengaji yang punya honor dari pemerintah, sehingga anak-anak ini lebih teratur dan diperhatikan,” harap bapak dua anak ini.

Apapun bentuknya, Sutikno sudah berbuat semampunya untuk mengajarkan anak-anak yang tumbuh di Kota Bekasi ini menjadi calon penghuni Sorga. Walau pernah menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan, Sutikno lebih memilih untuk berdikari sehingga tetap punya waktu menularkan ilmunya kepada generasi. Beberapa Keinginannya pun mulai terwujud. Tidak pernah meninggalkan Sholat 5 waktu berjamaah, bisa membangun Muhsolla bersama warga dan mengajarkan anak-anak mengaji sore dan malam hari. Bahkan warga membangun rumah panggung agar muridnya lebih betah belajar membaca dan melafazkan Al-Quran.

_MG_0094

(Teks : Sukwan Hanafi/ Foto : Rahman Faisal)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.