BEKASI RASA BALI

Hujan deras yang mengguyur Bekasi Minggu petang, tak menyurutkan semangat sekumpulan anak dan remaja putri yang berlatih kesenian Bali pertengahan Februari lalu. Halaman depan Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi, yang berlokasi di Jalan KH Noer Ali, dipenuhi dengan kendaraan roda empat dan roda dua yang berjajar rapi. Begitu berada lebih dekat lagi dengan pusat peribadatan umat Hindu di Kota Bekasi ini, suara tetabuhan dan gamelan khas Bali lembut  menyapa gendang telinga.

SONY DSC

Para penari yang berusia antara 6 hingga 12 tahun berderet rapi dalam formasi Tari Pendet. Menggunakan kain endek dan kemben khas Bali mereka melenggak lenggok dengan luwes mengikuti irama tabuhan gamelan dan ketukan I Gusti Kompiang Raka (69), sang pelatih. Hari itu tak kurang dari seratus penari yang terbagi dalam 5 kelompok, tampak tampil dan berlatih bergiliran.

Namun ada yang unik, beberapa remaja putri  gadis berjilbab juga ikut menggerakkan tangan menyelaraskan irama yang mengiringi lenggak-lenggok para penari. Penabuh gamelan menyemarakan suasana dengan atraksi memutar alat pemukul dengan atraktif. Menurut I Gusti Kompiang Raka, pria yang hampir sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk perkembangan kesenian Bali, berlatih kesenian Bali di Pura Agung Thirta Buana di Jalan Kalimalang ini terbuka bagi siapa aja yang ingin belajar kesenian Bali, tidak terbatas untuk umat Hindu saja.

BALI8

“Kami terbuka untuk warga Bekasi yang ingin belajar dan berlatih disini tanpa batasan suku, agama dan ras tertentu. Siapa pun boleh datang kesini untuk belajar atau menonton. Saya senang kesenian Bali bisa berkembang di Bekasi,” ungkapnya dalam dialeg khas Bali.

I Gusti Kompiang Raka bukanlah seorang seniman biasa, aura Sang Maestro Tetabuhan dan Tarian Bali yang mendapat gelar sebagai Bapak Kolaborasi Indonesia, melatih murid-muridnya di Pura Agung Thirta Buana ini tiga kali dalam sepekan. Rabu, Sabtu dan Minggu. “Silakan datang dan menyaksikan tarian dan musik tradisional Bali disini,” undangnya. “Pertama saya mengajar di Bekasi sekitar tahun 1992-1993, tepat setahun setelah Pura Agung ini diresmikan,” imbuhnya.

Lembaga Kesenian Bali (LKB) Saraswati yang ada di Bekasi, adalah salah satu dari enam cabang LKB Saraswati yang ada di Jakarta dan sekitarnya yang sudah hadir sejak tahun 1968. LKB Bekasi ini, memiliki anggota terbanyak di setiap angkatannya. Wayan Trisna, seorang asisten yang sudah berpuluh tahun mengikuti Kompiang Raka mengabdi untuk seni dan budaya Bali, menuturkan, bahwa jumlah peserta yang datang hari itu lebih sedikit dari biasanya, “Kalo hari tidak hujan yang ikut latihan bisa dua sampai tiga kali lipat dari sekarang,” ungkap pria yang berdomisili di kawasan Pondok Ungu Permai, Kota Bekasi ini. “Bapak itu (I Made Kompiang) total kalo bicara soal seni dan budaya Bali. Kami jadi bersemangat untuk mengabdi dan melestarikan warisan leluhur kami ini,” ucapnya bangga.

KOMPYANG

Menurut I Made Kompiang, LKB Saraswati membagi kelasnya menjadi tiga yaitu Dasar, Madya dan Purna. Setiap tingkatan ada enam jenis tari yang dipelajari selama empat tahun. Misalnya di tingkat dasar diajarkan Tari Pendet, Tari Panji Sembilan, Tari Tenun, Tari Margapati, Tari Kebyar Duduk, dan Tari Manuk Rawo. “Siswa yang masuk tingkat sekarang tidak akan sama semua tarinya dengan angkatan sebelum atau sesudahnya. Jadi setiap tingkat punya 10 tari dan yang diajarkan hanya enam. Total jumlah tarian ada 34 jenis tarian yang diajarkan untuk semua tingkatan,” jelasnya.

Menurut ayah dari I Gusti Ayu Sri Mertawati Raka Putri dan I Gusti Ngurah Gde Dyaksa Raka Putra ini ada tiga jenis tarian Bali. Pertama Tarian Wali yang tidak boleh sembarangan ditampilkan dan diajarkan ke siswa, hanya segelintir orang saja yang akan tampil dalam upacara khusus. Kedua adalah Tarian Pebali sebagai pelengkap upacara tetapi hanya boleh dipentaskan pada saat tertentu. Dan Tarian Tontonan yang boleh dipentaskan kapan saja. “Tingkat kesakralan tari yang juga dirumuskan dalam rapat agar tetap terjaga mana yang bisa ditampilkan di depan umum dan mana yang tidak.” papar seniman kelahiran Banjar Kutri, Singapadu Tengah – Gianyar ini.

SONY DSC

“Saya melihat masyarakat Bekasi ini guyub, beberapa kali kami diminta untuk berpartisipasi dan bergabung dalam event lokal Bekasi, menandakan kepedulian warganya.” ungkap Kompiang yang juga dikenal sebagai Tokoh Agama Hindu Bali di Jakarta.

“Di Bali ada budaya Ngayab yaitu kebersamaan mengabdi dalam hidup, di Bekasi dengan jumlah Umat Hindu yang banyak dan berbaur padu dengan masyarakat membantu banyak proses toleransi dan keberagaman di Indonesia,” lanjutnya.

Sebagai seniman, Kompiang Raka memiliki harapan khusus kepada Pemerintah Kota dan masyarakat Bekasi untu saling belajar, saling mengisi dan bekerjasama mengembangkan seni budaya dan Pariwisata di Bekasi. Menularkan kemampuannya dalam berkesenian khususnya Budaya Bali kepada generasi penerus di kota ini, merupakan salah satu sumbangsihnya untuk memperkaya khazanah budaya di Bekasi. Tak perlu jauh untuk belajar dan menyaksikan budaya Bali. Disini ada Bekasi rasa Bali.

(CAPRIT SANTOSO)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.