Yan Rasyad : “Cabang Olahraga di Kota Bekasi Harus Sehat”

Tenis meja adalah satu dari 38 cabang olahraga yang terdaftar di KONI Kota Bekasi. Tenis meja memang belum termasuk dalam salah satu olahraga unggulan jika diukur dari prestasi yang sudah ditorehkan untuk Kota Bekasi.

Namun begitu, potensinya tak bisa dipandang sebelah mata. Setidaknya ada 22 klub Persatuan Tenis Meja (PTM) yang bertebaran di berbagai lokasi di kota ini. Secara mandiri atlet-atlet yang bergabung di klub-klub ini sudah berlatih secara rutin, mempunyai pelatih yang jelas dan mampu menggelar turnamen antar klub rutin setiap dua bulan. Dari seluruh PTM yang ada, setidaknya, telah terhimpun 200 atlet dari berbagai kategori.

Apa hendak dikata, dari pengakuan sejumlah pengurus klub, sejauh ini tidak ada perhatian dan pembinaan yang jelas. Tak pernah bisa bersinergi dengan induk organisasinya. Banyak contoh yang sudah terpampang di depan mata.

Nuansa ketidakharmonisan ini rupanya juga sudah tercium oleh Yan Rasyad, Ketua KONI Kota Bekasi. “Secara umum saya mendengar ada suara-suara yang harus diluruskan oleh PTMSI (Kota Bekasi),” katanya.

Dalam masa kepengurusannya yang baru seumur jagung ini, Yan dan jajaran pengurus KONI Kota Bekasi  menyadari masih banyak perubahan yang harus dilakukannya terhadap semua cabang olahraga yang menurutnya sebagian besar cabang mempunyai kendala dan permasalahan masing-masing.

Untuk menyisir semua permasalahan dan mencari jalan keluar, saat ini pengurus KONI Kota Bekasi telah membentuk sebuah tim verifikasi yang akan menilai semua kinerja cabang olahraga. Tim ini sudah bekerja dan memberi laporan pada pertengahan Juli ini.

“Saat ini kita sedang verifikasi semua surat keputusan seluruh cabang olahraga, termasuk di dalamnya SDM, sekretariat, atlet, tempat latihan, dan pelatih. Itu sedang kita lakukan. Jangan sampai ada Pengcab (Pengurus Cabang) diatas kertas bagus, ternyata di lapangan tidak sesuai dengan laporannya. Faktanya tidak sesuai. Kan bahaya. Ini semua terkait dengan dana pembinaan atlet yang digelontorkan oleh KONI Kota Bekasi,” kata Yan.

Menurut pria yang juga menjadi Pengurus Cabang Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (PERSIROSI) Kota Bekasi, tujuan verifikasi untuk mengetahui sejauh mana pembinaan KONI terhadap cabang olahraga.

“Setelah tahu gambarannya, bisa jadi ada yang kurang sehat dan memang perlu diamputasi, maka akan kita lakukan. Tujuannya agar cabang olahraga tersebut sehat. Dan menjaring prestasi di PORDA Jawa Barat mendatang,” katanya.

Yan mengaku sangat kecewa sekali ketika mendapat kabar bahwa ada seorang pengurus cabang tenis meja yang juga merangkap sebagai pelatih dan ofisial tenis meja Kota Bekasi, terdaftar dan bertanding untuk daerah lain di arena PORDA Jawa Barat 2014 lalu.

“Itu sebuah perbuatan murtad, menyimpang. Seharusnya dia membesarkan dan mendorong Pengcabnya untuk juara. Disisi lain dia sebagai pengurus aktif dan strategis,  dia menjadi pemain daerah lain yang menjadi kompetitor. Saya dengar itu,” kata Yan dengan nada tinggi.

Yan menjelaskan bahwa KONI sifatnya hanyalah pembinaan semua cabang olahraga tanpa harus intervensi. Cabang olahraga melakukan sendiri perubahan kepengurusan yang dirasa sudah tidak menjalankan peranannya.

“Koni tidak intervensi, kalau memang (PTMSI)  melaksanakan musyawarah kota luar biasa, kita (pengurus KONI) hadir, terus setelah acara (Musyawarah Kota Luar Biasa) terpilih pengurus baru, kita akan buat rekomendasi, kita tidak akan menghambat, pengurus cabang baru memang harus berdasarkan musyawarah klub,” kata Yan.

HANS

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.