Sinyo Aliandoe dan Rully Nere

Apakah sepak bola Indonesia diambang kematian ketika sanksi FIFA sudah dijatuhkan?

 

Sepak bola tidak boleh mati dan tidak bisa dimatikan. Dia tetap hidup dan terlihat di wajah berjuta-juta anak Indonesia yang saat ini sedang berlatih di seluruh pelosok negeri ini. Jika ada kematian, kematian itu hanya sesaat karena masa depan sepak bola kita ada di kaki dan di hati mereka.

 

Dua pekan terakhir ini saya memilih menyambangi sejumlah lapangan sepak bola yang ada di wilayah Bekasi; menyapa dan berkenalan dengan sebagian anak-anak yang sudah menggantungkan cita-cita tuk kelak menjadi pemain sepak bola.

 

Di lain waktu, saya juga menyapa dan mengingat-ingat kembali para legenda sepak bola Indonesia. Sutjipto Soentoro, Abdul Kadir, Ronny Pattinasarany, Hadi Mulyadi (Fam Tek Fong), drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe), Abdul Kadir, adalah sebagian kecil dari banyak pelaku sejarah sepak bola Indonesia yang saya kenal dan saya kenang.

 

Ketika berada di salah satu lapangan sepak bola di sudut Bekasi, saya teringat Sinyo Aliandoe. Di penghujung tahun 2014 lalu, saya bertemu Om Sinyo – begitu saya memanggilnya – ketika ia hendak menonton mantan-mantan pemain nasional berlatih bersama di Stadion Bea Cukai, Jakarta Timur.

 

Sinyo Aliandoe tidak lagi seperti dulu. Dia sudah tergerus usia dan saya harus berkali-kali memperkenalkan diri sebelum pada akhirnya ia ingat kembali. Waktu itu, Sinyo dijemput Rully Nere, salah satu anak didiknya yang begitu menghormati sang guru.

 

Sinyo – lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1940 – adalah pelatih bertangan dingin. Dia lebih mengutamakan hitungan-hitungan teknis di lapangan ketimbang menyandarkan diri dalam ungkapan “bola itu bundar”. Dia menghitung benar setiap langkah lari pemain dalam proses mencetak gol. Sinyo dikenal memiliki kemampuan mengubah pola permainan pasukannya seketika hanya dengan memanfaatkan pergantian pemain, ketika menghadapi Pra-Piala Dunia 1985.

 

Sinyo sangat pandai meramu pasukannya sebagai serdadu yang menakutkan. Hermansyah, Ristomoyo, Didik Darmadi, Warta Kusuma, Elly Idris, Bambang Nurdiansyah, Rully Nere, Marzuki Nyakmad, Noah Meriem, Zulkarnain Lubis, Herry Kiswanto, Ferril Raymond Hattu, dan Dede Sulaiman, dia jadikan sebagai kumpulan pemusik. Bak sebuah orkestra, mereka memainkan musik berirama ketika Sinyo – bersama asisten Bertje Matulapelwa dan Salmon Nasution (keduanya sudah almarhum) – tampil sebagai dirigen.

 

Rully Nere adalah salah satu legenda yang saya kenal baik. Setiap kali kami bertemu, setiap kali itu pula tak bisa tidak membicarakan sepak bola. Rabu dua pekan lalu, misalnya, Rully terlihat di lapangan sepak bola Petak Sinkian.

 

Di Petak Sinkian, saya tak berani mengusik Rully. Di lapangan yang dulu kebun singkong dan sudah ada sejak 1913 itu, ia terlihat gagah. Jika bola sudah berada di kakinya, keindahan-keindahan sepak bola terlihat begitu jelas. Rully menggiring bola, bergerak ke belakang dengan memutar seluruh badannya, dan ia segera melepas bola sebelum lawan mendekat. Akurasi umpannya masih terpelihara dengan baik.

 

Rully Rudolf Nere — lahir di Jayapura, 13 Mei 1957– tak akan pernah lupa Kampung Harapan, tempat ia bermain bola di tanah kelahirannya. Di sana, di lapangan yang sudah ada sebelum dia lahir, Rully kecil melewatinya dengan bermain sepak bola. Masa kecil mantan gelandang elegan tim nasional itu —  Rully lahir dari keluarga yang datang dari Pulau Asei, Danau Sentani Timur –memang terasa begitu indah.

 

Saya tak melihat ada kematian pada sepak bola kita. Ali-alih melihat kematian, saya ikut merasakan kegembiraan dan keindahan-keindahan sepak bola di wajah Sinyo Aliandoe dan di kaki Rully Nere.

 

YON MOEIS

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.