SAMPAH MENJADI RUPIAH

 

_MG_6195

Vespa mini batok kelapa, begitulah biasa orang menyebut barang yang antik ini. Sebuah keterampilan yang butuh konsentrasi dan keahlian khusus dalam pembuatannya, karena batok atau tempurung kelapa adalah bahan yang cukup keras dan sulit untuk dibentuk.

Namun di tangan Mustofa, lelaki berusia 39 tahun yang punya keterbatasan secara fisik, Batok kelapa ini sudah berubah bentuk menjadi sesuatu yang mempunyai nilai jual. Dengan hasil yang mengkilap, rapi dan unik.

“Kerajinan ini saya buat mulai dari tahun 2013 dan sudah berjalan selama 2 tahun ini. Saya dibantu oleh rekan-rekan atau tim dari padepokan yang sudah seperti keluarga dibentuk menjadi karang taruna garuda muda. Walaupun baru berjalan 2 tahun tapi alhamdulilah untuk pemesanannya sendiri sudah banyak.” Ujar pria yang mengalami kelumpuhan ini.

Mustofa hampir putus asa ketika dokter memvonisnya menderita TBC tulang pada tahun 2009 lalu. Padahal saat itu ia juga harus membiayai sekolah keduanya dan adik kandungnya yang masih tinggal satu atap bersama ibunya. Penyakit ini membuat dirinya pernah terniat untuk mengakhiri hidup saja, karena biaya pengobatan yang mahal.

Namun semua berubah setelah pertemuannya dengan Riri yang akrab disapanya dengan sebutan ‘pak De’. Riri membantunya membangkitkan semangat dalam dirinya, hingga membuat Mustofa bangkit dari keputus asaan.

Pada pertemuan berikutnya, Riri mengajak Mustofa untuk berobat ke Rumah Sakit dan membiayai semua proses pengobatan tersebut. Miris melihat kondisi Mustofa dan beberapa warga kurang mampu lainnya, akhirnya Riri memberinya pelatihan agar bisa hidup mandiri, daripada menjalani hidup  menjadi pengemis.

“Saya terus memberi semangat kepada mustofa ‘yoo bangkit’ dan akhirnya dia mau saya ajak kerjasama buat kerajinan dari batok kelapa itu. Anak-anak jalanan juga saya ajak masuk kepadepokan saya, daripada mereka terlibat narkoba dan minum-minum akhirnya saya ajak mereka untuk berkreasi, supaya hidup mereka lebih terarah” ungkap Riri.

Di padepokan ini terletak di Jl. Dewisartika Rt.02 Rw 06 Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, semua dimulai. Riri merelakan rumahnya ini ddijadkan tempat bagi Mustofa dan kawan-kawannya untuk tempat berkumpul dan melakukan kegiatan yang bermanfaat. Salah satunya adalah pelatihan cara memberdayakan batok kelapa, benda yang oleh kebanyakan orang hanya dianggap sebagai sampah, karena mendapatkannya cukup mudah. Sejauh ini, pedagang es kelapa pinggir jalan sudah menjadi pemasok utama untuk bahan-bahan ini.

“Disini saya berperan sebagai pengamat dan penyedia tempat saja. Saya tidak menuntut apapun dari mereka. Hasil penjualan karya yang mereka buat saya serahkan kepada mereka masing-masing. Saya mau mereka punya tekad, berani dan mau bangkit. Teman- teman saya banyak membantu saya dan padepokan, dalam menjual produk ini. Sampai saat ini penjualan sudah sampai ke bali dan singapura. Sisanya ada di tanggerang dan sekitarnya,” papar Riri

Dibantu anaknya, Mustofa bersama rekan di Padepokan ini bisa membuat 10 buah vespa mini dalam sehari. Cara pengerjaannya juga sederhana. Mula-mula batok dibersihkan dari sisa-sisa serat serabut kelapa, lalu diamplas sampai terlihat mengkilat dan alami. Setelah itu, batok dipotong sesuai bentuk potongan yang dibutuhkan. Bagian tersulit tentunya menyiapkan panel terkecil, karena membutuhkan ketelitian yang baik.

Bagian-bagian yang sudah dipotong kemudian direkat menggunakan lem Korea. Sementara untuk memasang bagian stang, menggunakan kawat. Pada tahap terakhir, dbuat landasan persegi yang berfungsi sebagai penopang motor vespa mini berdiri.

Selain memproduksi vespa mini dari batok saja, bapak dua anak ini juga membuat lampu kamar sederhana terbuat dari kotak kayu bekas telur dan kertas koran.

Selain unik, harga yang ditawarkan terbilang murah untuk sebuah karya yang dibuat oleh tangan terampil. Untuk sebuah vespa mini dihargai Rp. 100.000 dan motor Harley dibandrol Rp. 150.000. per-satuannya. Selain itu adapun harga untuk lampionnya sendiri yaitu Rp. 300.000 per-lampunya.

Sebagai Bapak angkat, Riri miris juga melihat nasib mereka. Walau sudah memiliki ketrampilan, dan mulai menggelar karya mereka, tapi juga sering harus berhamburan lari pontang-panting menyelamatkan barang dagangan dari Satpol PP, karena mereka menggelar hasil kerajinan di kawasan yang memang dilarang. Ujung-ujungnya, ada sebagian dari mereka kembali kejalanan sebagai pengamen, sekedar mencari pengganjar perut sampai suasana dirasa aman kembali untuk menggelar dagangannya.

Hal inilah yang menyebabkan anggota padepokan yang sudah mempunyai keahlian terus berkurang. Saat ini anggota yang masih aktif hanya tinggal 7 orang saja, termasuk Mustofa, yang hanya mengandalkan mengandalkan produk Vesva Mini ini sebagai penghasilan tambahan.

Zaeryna Karima

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “SAMPAH MENJADI RUPIAH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.