Mengingat Malari

 

Januari adalah sebuah permulaan…

L’hostoire se repete, sejarah berulang, selalu menjadi kutipan yang menarik. Bukan Cuma bunyi dalam bahasa perancis yang cederung berkesan eksotis romantic tetapi memang demikianlah adanya.

Januari bagi angkatan lama selalu lekat dengan satu titik peringatan. Sebuah peristiwa yang membuka banyak dimensi politik di kemudian harinya. Peristiwa 15 Januari atau Malari.

Peristiwa Malari (Malapetaka Limabelas Januari) demikian ia dikenal, adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974. Diawali dengan demo mahasiswa yang dipimpin Ketua DMUI saat itu, Hariman Siregar.

Awalnya mahasiswa merencanakan menyambut kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang Tanaka Kakuei yang berkunjung ke Jakarta, dengan demonstasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Ketatnya penjagaan membuat mereka tak berhasil menerobos masuk. Ini sesungguhnya puncak, setelah sebelumnya mereka juga menyambut kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P. Pronk dengan demonstrasi anti modal asing.

Jepang pada saat itu dianggap sebagai pemeras ekonomi Indonesia karena mengambil lebih dari 53% ekspor (71% diantaranya berupa minyak) dan memasok 29% impor Indonesia. Tetapi, berbeda dengan sebelumnya, demo terhadap Kakuei harus disertai dan berakhir dengan kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Jakarta berasap. Sedikitnya mampu dicatat 11 korban jiwa, 75 luka berat, ratusan luka ringan, 775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 motor dibakar, 160 kg emas raib.

Awalnya berkembang dugaan, eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Belakangan kian benderang bahwa aksi mahasiswa ini ditunggangi oleh salah satu dari dua kepentingan yang bersitegang saat itu. Pertarungan diam antaradua Jendral besar.

Peristiwa ini diikuti dengan tindakan Soeharto memberhentikan Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, langsung mengambil alih jabatan itu. Jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan. Kepala Bakin, Sutopo Juwono digantikan oleh Yoga Soegomo.

Ketika banyak pernyataan dan bukti belakangan bahwa Ali Moertopo sendiri dengan CSIS-nya yang mendalangi peristiwa Malari itu. Ada banyak kajian dan pernyataan yang bersimpang siur hingga saat ini. Tak jelas benar pada akhirnya di mata awam apa yang terjadi di balik layar besar. Begitu banyak faktor dan latar belakang yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Dualisme di tubuh pemerintahan memang dituding simpul yang menjelaskan banyak hal.

Perang diam dua muka antara mafia Berkeley, berisi ekonom handal asuhan Soemitro Djojohadikusumo berhadapan dengan Ali Moertopo dan CSIS yang menjadi think thank baru. Dan pertarungan banyak bermuara dan berhulu di tempat itu.

Kini, ada peristiwa bom Sarinah. Suara kuat menuding itu perbuatan ekstrim kanan membuat penulis teringat tudingan pada Masyumi dan PSII. Persiapan persalinan UU Anti Teror yang dikemudikanLuhut B Panjaitan, merapatnya ARB kepemerintahan Jokowi sesaat setelah kejadian ini, entah mengapa membawa saya mengenang peristiwa Malari. Wallahualam… Januari memang sebuah permulaan.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.