Menanti Plastik Ramah Lingkungan

Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas menghadapi berbagai persoalan lingkungan, yaitu tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat diuraikan secara alami oleh mikroba di dalam tanah, sehingga terjadi penumpukan sampah plastik yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Kelemahan lain adalah bahan utama pembuat plastik berasal dari minyak bumi, yang keberadaannya semakin menipis dan tidak dapat diperbaharui. Seiring dengan persoalan ini, maka penelitian bahan kemasan diarahkan pada bahan-bahan organik, yang dapat dihancurkan secara alami mudah diperoleh.

Ir. Toto Hadi Prayitno, seorang pakar plastik kemasan lulusan Analis Kimia ITB mengatakan penggunaan plastik dalam berbagai aspek kehidupan tak bisa dihindari. Bahkan penggunaannya terus meningkat. “Sampah plastik rata-rata memiliki porsi sekitar 10 % dari total volume sampah. Dari jumlah itu, sangat sedikit yang dapat didaur ulang,” Jelas Toto ketika ditemui di rumahnya, kawasan Grand Wisata Bekasi.

PLASTIK1

Bahan baku plastik konvensional yang selama ini kita pakai berasal dari produk turunan minyak bumi yang memilki kekurangan sebagai energi tiddak terbarukan yang tidak ramah lingkungan. Salah satu hasil pengeboran minyak bumi adalah monomer dan jika melalui proses pemanasan langsung akan berubah menjadi polimer sebagai bahan baku utama untuk membuat plastik.

Toto menambahkan, beberapa negara maju seperti Jepang, Jerman dan Amerika Serikat telah melakukan Berbagai riset untuk menggali berbagai potensi bahan baku biopolimer, atau bahan yang lebih alami sehingga plastic lebih cepat hancur dan ramah lingkungan. Penelitian yang dilakukan tersebut menggunakan bahan baku alami seperti Jagung, Sagu, Kentang, Singkong dan rumput laut. Semua bahan baku ini dapat menghasilkan biji plastik alami atau biopolymer, dan minyak sawit menjadi campuran utama untuk membuat plastik alami ini menjadi elastis

 

Dengan memakai plastik berbahan baku alami ini, selain bahannya mudah di dapat, terutama di Indonesia, juga sangat bersahabat dengan alam. Hebatnya, plastik jenis ini hanya membutuhkan waktu 3 bulan bagi mikroorganism untuk mengurainya, sekaligus bisa menjadi kompos atau  penyubur tanah.

Plastik02

Di Indonesia , polimer biodegradable telah dikembangkan sejak 10 tahun lalu, namun penelitian dan pengembangan teknologi kemasan plastik biodegradable masih sangat terbatas. Beberapa perusahaan di Indonesia sudah mulai memproduksi kemasan berbahan plastic alami ini, tapi masih terbatas untuk keperluan ekspor, karena masih mahalnya biaya produksi.

Toto mengungkapkan prospek pengembangan biopolimer di Indonesia sangat potensial. “sumber daya alam, khususnya hasil pertanian yang melimpah dan dapat diperoleh sepanjang tahun. Banyak hasil pertanian yang potensial untuk dikembangkan menjadi biopolimer,” jelasnya.

Namun toto menjelaskan pengembangan biopolimer di Indonesia bukanlah tanpa kendala, karena di Negara lain juga tengah melakukan penelitian untuk membuat plastik berbahan sintetis yang juga ramah lingkungan. “apabila kita terlambat memproduksi dan memasarkannya, maka plastik berbahan sintetis akan lebih dahulu menguasai pasar,” ungkap Toto prihatin.

Menurut Toto hingga saat ini yang bisa dilakukan masyarakat adalah menggunakan plastik dengan bijak, mengkonsumsi plastik tidak sebagai produk sekali pakai (disposable), memilah sampah plastik dari sampah organik untuk mengurangi dampak lingkungan yang lebih besar. Toto berharap pemerintah memberikan ruang yang lebih luas kepada para peneliti untuk lebih intens untuk mendapatkan bahan baku alami.

Parola (lighthouse) Biondo side of Manila harbor is home to 20,000 squaters who live between port facilities and the mout of the Pasig River.  The river winds through downtown Manila, and carries refuse that gets deposited on the shore beneath Parola's stilt houses.   Here  Rodello Coronel Jr. 13 y.o., the second of nine children in his family, spends the morning picking through the trash on shore looking for recylable plastic, which sellls for 13 pesos (35 US cents) per kilo.   His mother can be reached at tel:09083518965.  The next day I saw him in his smart-looking school uniform with a small briefcase holding his homework papers. With a rapidly growing population, the slums of Manila have extended onto coastal mudflats and waterways that are very susceptible to flooding from storms and rising sea levels.  The government is trying to move these people out of the hazard areas, but have agreed that that they must be moved to new areas nearby from which they can reasonably commute to work (less than 25km).  For more info contact Dennis Murphy of the Philippine NGO Urban Poor Associates Urban Poor Associates
Parola (lighthouse) Biondo side of Manila harbor is home to 20,000 squaters who live between port facilities and the mout of the Pasig River. The river winds through downtown Manila, and carries refuse that gets deposited on the shore beneath Parola’s stilt houses.
Here Rodello Coronel Jr. 13 y.o., the second of nine children in his family, spends the morning picking through the trash on shore looking for recylable plastic, which sellls for 13 pesos (35 US cents) per kilo. His mother can be reached at tel:09083518965. The next day I saw him in his smart-looking school uniform with a small briefcase holding his homework papers.
With a rapidly growing population, the slums of Manila have extended onto coastal mudflats and waterways that are very susceptible to flooding from storms and rising sea levels. The government is trying to move these people out of the hazard areas, but have agreed that that they must be moved to new areas nearby from which they can reasonably commute to work (less than 25km).
For more info contact Dennis Murphy of the Philippine NGO Urban Poor Associates Urban Poor Associates

sampah di pantai Kuta Bali - balebengong.com

Di Bekasi, sampah plastik sudah menjadi pemandangan jamak yang terlihat sehari-hari. Tanah di Bekasi sudah menjerit terhimpit berbagai penyakit lingkungan, mulai dari limbah pabrik, pencemaran sungai, limbah rumah tangga dan menjadi tempat pembuangan sampah dari kota Jakarta yang sebagian merupakan plastik. Kehadiran sebuah inovasi baru sudah sangat dinantikan, agar generasi kita bisa menikmati lahan yang masih subur serta laut yang masih jernih dengan ikan-ikan yang berenang riang di dalamnya.

CAPRIT SANTOSO

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.