MEMULIAKAN IBU

Perjalanan siang yang menembus kepadatan lalu lintas Jakarta,  bukan cara yang Menyenangkan menghabiskan hari. Apa boleh buat, janji sudah dibuat. Janji tetaplah janji, apalagi kencan wawancara dengan eksekutif muda sesibuk dia bukan hal yang mudah untuk dirancang-ulang.

Penantian yang terasa lambat dan membosankan tunai terbayar pecakapan yang riuh, penuh semangat dan berenergi. Minggu pertama di awal Agustus ini menjadi sangat luar biasa. Mahesa Arba, sang pengusaha sukses ini menjadi satu dari dua lelaki yang sukses dalam karir dan berkeluarga yang saya temui minggu ini.

Lelaki kedua, Affendi. Ia teman masa kuliah yang saya temui dalam reuni angkatan Sembilan puluh Fakultas Hukum Universitas Indonesia, juga menempati posisi puncak sebuah perusahaan skala nasional. Affendi bahkan berani mengakui bahwa kekuatan doa ibulah yang membuatnya selalu lulus semua mata kuliah tanpa mengulang. Bahkan, satu mata kuliah ia lampaui tanpa mengikuti ujian dan lulus, meski diakuinya ia bukan mahasiswa yang rajinbelajar.

Kedua pertemuan itu seperti suplemen vitamin dosis tinggi. Satu keeping bagian pengakuan cara sukses keduanya seperti membuka bentangan cakrawala kemuka. Yang menarik, keduanya menyebutkan mantra yang sama. “Muliakan ibumu, maka kekuatan doanya akan memuliakanmu.”

Memuliakan ibu, meski Nampak sederhana ternyata sulitnya luar biasa. Memuliakan ibu, bermakna tak akan pernah merusak sedikitpun namanya, memberikan segala permintaannya, memenuhi seluruh harapannya. Lalu, kekuatan doanya menjadi sabda Yang MahaKuasa, menggelontorkan seluruh pengabulan akan doanya bagi kebahagiaan dan kesuksesan anak tercinta.

Tiba-tiba teringati bunda kita semua, ibu pertiwi Indonesia. Memasuki usia tujuh puluh, sepertinya bunda pertiwi Indonesia kian tak dimuliakan. Beratus kali ia mengingatkan dengan peringatan dan bencana, dengan peristiwa dan kejadian. Beribu kali kita abaikan dan terus membuat kerusakan di hadapannya.

Kian di ingat, kian tertekan rasanya dada ini. Betapa kita anak-anak bangsa ini belum pandai menempatkan ibunda pertiwi pada tempat yang layak dan terhormat. Konsep nation dan bangsa yang kian kabur, pertikaian antar saudara yang jadi santapan harian hingga sikut menyikut bahkan membunuh saudara sendiri demi kepingan warisan ibunda yang belum lagi tiada.S ejauh mana ibunda menangis hingga menjadi air bah, gempa dan tsunami, namun anak-anak bangsa tak bergeming. Perbedaan jadi pertikaian, persamaan tak pernah menjadi daya dorong untuk melesat maju.

Ketika kini kita kian miskin rasa, daya dan upaya terlebih harta, sepertinya kita harus mengetuk pintu rezeki kita kuat-kuat. Bukankah pula jelas tertuang dalam ajaran agama bahwa,  “Allah menjanjikan tujuh pintu rezeki bagi umatnya, dan pintu pertama adalah memuliakan ibu. ”Barangkali kita belum menjadi bangsa yang besar dan hebat, karena kita belum mampu memuliakan ibunda pertiwi kita, Indonesia.

Dirgahayu ketujuh puluh Ibunda pertiwi, Indonesia.

Semoga kami lebih mampu memuliakanmu lebih dari sebelumnya.

Restu dan ikhlasmu akan menjadi sumber keridhaan-Nya akan kejayaan anak-anak bangsa.

(DECY C. HASAN)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.