KUDAPAN YANG MENJANJIKAN

Salah satu makanan ringan yang kini banyak disukai oleh semua golongan usia adalah mie lidi. Lidi-lidi ini merupakan snack cemilan berbentuk kecil memanjang menyerupai lidi pada “sapu lidi”. Makanan yang satu ini, kebanyakan digemari mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang dewasa. Produk yang diolah dari tepung terigu kemudian diproses secara higienis dan dicampur dengan bumbu – bumbu pilihan. Tidak menggunakan bahan pengawet jadi aman untuk dikonsumsi.

Perbedaan dari setiap mie lidi lainnya selain dari rasa bahkan sampai pada kemasan dan juga nama makanan itu sendiri. Saat ini kebanyakan orang sedang menggilai kata-kata travelling dan semakin pesat berkembanganya tempat petualangan yang bagus di Indonesia. Bahkan di tanah air sendiri kaya akan alamnya, maka dari itu belum ada yang dapat mengelola dan mengekspor hal ini mulai dari yang terkecil. Maka, terciptalah produk snack mie lidi yang bernuansa travelling bernama Mamanona dari asal kata mama dan nona yang artinya adik yang paling kecil untuk sebutan khusus di daerah Manado, Sulawesi Utara.

SONY DSC

Dari setiap unsur kemasan dibuat dengan menarik dan tampilan produk pun dicantumkan beberapa tempat referensi travelling di Indonesia. Rasa mie lidi ini dibuat secara khusus untuk memikat para konsumen. Beberapa rasa andalannya, Mamanona dari Medan (Ikan Tri), Boyolali (Keju), dan Hiyung Tapin (Pedas). Setiap satu kemasan/pics mie lidi Mamanona cukup dibandrol dengan harga 13 hingga 15 ribu rupiah.

Walaupun tidak berasal dari keluarga pengusaha, Gally Marsiano (20) memulai bisnis kecil-kecilan sejak di bangku SMP hingga SMA. Usaha awal yang ditekuni mulai dari jualan pulsa, makanan ringan, sampai jualan baju juga topi.  “Saya berjalan di area bisnis sejak tahun 2009. Awal menginjak bangku kuliah (Institut Bisnis Nusantara) saya  mencoba berbisnis dengan teman-teman yang berada di kawasan rumah. Bisnis saat itu kami mengusung dengan konsep souvenir pada saat itu,” ujarnya.

Tahun 2012 hingga 2014 masih bergerak di bidang supplier, dan hal tersebut merupakan pembelajaran awal dari berbisnis. Banyak cara yang didapatkan, mulai dari bagaimana mengelola sebuah usaha serta sampai mempersentasinkan bisnis pada client. Dalam menjalankan usaha tentunya tidak selalu berjalan mulus, pasti ada jatuh bangun dan ketika pada Maret tahun 2015 bisnis supplier ini di vakumkan.

Pengalaman pahit setelah satu bulan sempat terhenti, membuatnya  lebih banyak belajar mengevaluasi apa kesalahan dari bisnis sebelumnya. “Di dalam bisnis pasti ada beban, dan meninggalkan financial serta saya tidak bisa seperti ini terus, harus bisa tegap berjalan bangkit lagi. Awalnya setelah terjun ke bisnis memang sudah menetapkan diri di area wirausaha. Jadi, tidak ada terpiikir sekalipun untuk bekerja dan tetap berusaha tidak menyerah tentunya,” ucap Gally Marsiano.

Peluncuran awal mula produk mie lidi Mamanona pada tahun 2015, snack lidi-lidian ini diperkenalkan dengan orang terdekat. Mulai dari keluarga, kerabat, teman kampus, dan para tetangganya. Bahkan tidak sedikit yang merespon baik saat mencicipi dan mencoba langsung mie lidi tersebut. Maka dari hal kecil itu yang membuat Mamanona bisa di kenal masyarakat banyak. Cara promosi dari mulut ke mulut dan memberikan percobaan tes setiap rasa snack Mamanona.

IMG_20150625_163134                Pertamanya banyak yang tidak tahu, apa bedanya snack lidi yang biasa di warung dengan produk Mamanona. Setiap percobaan di lakukan, masukan dan kritikan selalu dari unsur segi rasanya. Rasa yang dibuat tidak transparan sehingga masyarakat menerka-nerka seperti apa rasa mie lidi yang dinamakan dari setiap provinsi di Indonesia. Bahkan, bumbu-bumbu untuk setiap snack Mamanona di datangkan langsung dari setiap daerahnya. Salah satunya Mamanona Hiyung Tapin racikan asli pedasnya dari Kalimantan.

Pola distribusi yang dilakukan pertama melalui mulut ke mulut serta para konsumen pun dapat membeli langsung di tempat produksi Mamanona di alamat komplek Perumkar Rs. Islam 1 Blok A No.8 Rt 003 / Rw 01. Kel.Harapan Jaya, Bekasi Utara. Cara distribusi kedua melalui salah satu akun media sosial Instagram @mamanona_id. Konsumen dimudahkan dalam pemesanan yang berada jauh tempat tinggalnya, dan tetap bisa mencoba produk mie lidi travelling tersebut.

            Modal awal yang dikeluarkan sebesar 500ribu, pembuatan produksi hanya seminggu sekali dan menghasilkan 250 hingga 300 kemasan/pics Mamanona. Omset setiap penjualannya kurang lebih sebesar Rp3.900.000,- dihitung dari kemasan yang laku terjual. Mamanona dipasarkan juga ke setiap café-café, dengan keuntungan yang di dapat sebesar 50%. Produk mie lidi travelling ini membuka peluang bagi siapa saja yang mau bergabung menjadi reseller yang nantinya keuntungan Mamanona dari para penjual produk pihak berbeda ini sebesar 25-35%.

            Kendala yang dihadapi usaha Mamanona sampai saat ini yaitu mencari investor dan juga beberapa dana lainnya. Produksi kemasan mie lidi tersebut akan bertambah jika adanya dana yang tercukupi. Dari tenaga kerja yang ada hanya mempekerjakan 2 atau kadang 3 orang karyawan. Kurangnya orang yang membantu produksi Mamanona ini menjadikan pengelola utamanya pun masih tetap ikut terjun langsung dalam pembuatannya.

Competitor atau pesaing dari snack mie lidi sudah sangat banyak dengan menciptakan berbagai macam jenis variasi. Pesaing diartikan bukanlah sebagian dari ancaman tetapi merupakan teman karena dari sanalah pengusaha yang menggeluti dunia bisnisnya dapat belajar banyak di mana letak kesalahan dan benarnya dalam usaha yang dijalankan. Sebanyak apapun competitor yang ada balik lagi dari dasar penilaian konsumen yang memang sudah menyukai snack mie lidi Mamanona.

Elsi Fidriani

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.