Kudapan Rumahan Membawa Berkah

Hidup di kota besar, pasti sudah tidak asing dengan berbagai  bumbu masak kemasan. Kaum hawa, ataupun ibu rumah tangga yang hobi memasak pasti selalu menggunakan beragam bumbu yang sudah tersedia dala berbagai kemasan daripada meracik bumbu sendiri. Berbagai pusat perbelanjaan, pasar modern hingga pasar tradisional, bahkan warung kecil yang berada di pemukiman padat, dipastikan menual aneka bumbu kemasan.

20160129_131011Beragam bumbu olahan yang sudah terbungkus rapi tersebut, saat ini sudah menjadi pilihan untuk meracik berbegai jenis masakan. Fitrayanti (50), seorang Ibu rumah tangga yang sudah 4 tahun bermukim di Jl.  Wareng Rt. 04/ Rw. 03, Kampung Kalijambe, Desa Lambang Sari, Kec. Tambun selatan, Kabupaten Bekasi, yang memanfaatkan salah satu jenis bumbu kemasan.

“Walaupun bumbunya dari olahan yang sudah ada, tapi saya tidak membuatnya cuma-cuma, jadi tetap harus diperhatikan dari segala aspek kualitas makanannya,” ujarnya.
Perjalanan hidupnya dalam mencoba berbagai usaha kuliner bisa dibilang cukup panjang. Pada tahun 2004 Fitrayanti pernah berjualan lontong didepan rumahnya di kawasan  Cinere, Jakarta Selatan. Kemudian tahun 2007 Fitrayanti juga pernah berjualan minuman anak anak didepan SDN Cinere 01 .

Sejak Agustus 2015 lalu ia pun mencoba membuat usaha kudapan stik dengan rasa yang dipadukan bahan bumbu kemasan. “Dulu saya pernah berjualan lontong sayur padang, tapi ada yang meniru resepnya dan membuka usaha yang sama. Akhirnya usaha saya tidak berkembang dan berhenti berjualan,” kenangnya. “Kemudian berdagang minuman segar dan makanan anak-anak, tapi banyak persaingan yang membuat usaha saya juga berhenti,” imbuhnya.

Karena memasak sudah menjadi sebagian dari hidupnya, Fitriyanti tak berhenti berinovasi. “Memasak itu hobi saya, dengan itu saya pun bisa menyalurkan ke tetangga untuk menghasilkan kreatifitas seperti sekarang,” ungkap Fitrayanti .

Sejak Agustus 2015 lalu ia pun mencoba membuat usaha kudapan stik dengan rasa yang dipadukan bahan bumbu kemasan. Ide membuat usaha kudapan stik ini berawal ketika anak bungsunya meminta cemilan, sedangkan di dapur hanya hanya tersedia bumbu kemasan kecil yang menjadi andalannya dalam memasak.

20160129_081919“Awalnya ketika anak bungsu saya merengek minta cemilan, saya lihat di Cuma ada bumbu kemasan. Saya bikin cemilan ala kadarnya dengan bahan tersedia. Tapi ketika hampir seminggu saya membuatnya, saya coba tawarkan warung dekat rumah. Setelah satu bulan, ternyata cemilan ini sangat dinanti para tetangga,” paparnya.

Saat ini sedikitnya ada 20 warung di sekitar tempat tinggalnya menjual kkudapan berbentuk stik ini. Bahkan bagi yang berminat bisa memesan langsung di rumah produksinya, jalan Wareng Rt 04/ Rw 03 Kampung Kalijambe, Kelurahan Lambang Sari, Kecamatan Tambun Selatan. “Banyak yang pesan langsung buat cemilan di acara-acara aqiqah, syukuran, sampai nikahan,” ujarnya bangga.

Nur Komariah (38), adalah warga Tambun yang suka membeli jajanan ini mengakui rasa khas dari kudapan hasil olahan Fitriyanti ini. “Rasanya   rasanya gurih, renyah, juga empuk dan enak bukan karna penyedap tapi memang resep rumahan ini enak sekali, kadang 3 sampai 4 stik abis sama saya sendiri dan kalau sudah habis saya suka nungguin aja sampai ada lagi,” Jelasnya.

20160129_105420Hingga saat ini, cara pengolahan yang dilakukan ibu tiga anak ini juga masih menggunakan alat sederhana. Untuk bahan baku juga mudah didapatkan di warung terdekat. “Saya masih menggunakan alat seadanya, walaupun dibuat dengan jumlah banyak, saya tidak menggunakan alat yang besar,” ungkapnya.

Selain menggunakan ‘ampia’ untuk menggiling, untuk mengaduk adonannya Fitriyanti tetap menggunakan tangan agar lebih lembut teksturnya, dan pengemasannya hanya menggunakan lilin.

Proses pembuatan kue stik tepung hanya ini memakan waktu kurang lebih tiga jam saja, sehingga tidak menyita waktu kegiatan lainnya, seperti mengurus rumah dan anak. “Produksi dilakukan dari pukul 9 pagi sampai selesai. Pengerjaannya tidak sulit, dan juga sekarang saya telah dibantu oleh dua orang tetangga saya, sekaligus bisa membantu ekonomi keluarganya dan biaya sekolah bagi anak-anaknya,” Jelas Fitrayanti.

20160129_122404Haeni (49) dan Kokom (47) adalah dua orang tetangga yang ikut membantunya dalam pembuatan stik tepung ini. “Buat ngisi waktu luang dan juga hasilnya lumayan lah buat jajan anak-anak saya yang masih kecil” ujar Haeni. “Hasilnya sangat lumayan walaupun tidak banyak, tapi bisa sedikit menutup uang harian dirumah, jadi memudahkan perekonomian keluarga saya,”  Kokom menambahkan.

Dengan alat seadanyaanya, dapur Fitriyanti bisa memproduksi 100 bungkus perharinya yang dijual 800 rupiah per bungkus. Untuk 100  bungkus tersebut, ia hanya mengeluarkan modal 50.000 Rupiah. Kalau pesanan lagi banyak, ia bisa memproduksi hingga tiga kali dalam sehari.

Walau hanya baru mampu mempekerjakan dua tetangganya, Fitriyanti berharap bisa mempekerjakan banyak orang lagi jika usahanya semakin meningkat. Ia menginginkan para ibu rumah tangga di sekitar lingkungannya juga mempunyai penghasilan tambahan di waktu luangnya. “Saya ingin membantu meringankan para ibu rumah tangga dalam hal positif dan juga menguntungkan. Jika mereka sudah punya ilmu memasak tentu mereka bisa bangun usaha sendiri,” jelas Fitriyanti.

20160129_124600Apapun usahanya, jangan pernah malu untuk menjalankannya. Walau hanya menu cemilan biasa, ternyata bisa jadi luar biasa, bila dilakukan dengan sungguh-sungguh. “Jangan pernah menyerah. Saya memulai dari ketidak-sengajaan, tapi sekarang menjadi usaha yang menjanjikan. Menjadi pengusaha tidaklah berawal dari besar, tapi melalui perjalanan yang panjang,” pungkas Fitrayanti menutup pembicaraan siang itu.

 

ELSI FIDRIANI

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.