Karinding adalah Rasa

“Memainkan Karinding bukan hanya soal nada yang harmonis.  Tapi soal rasa…” Demikian Ende Tusida yang akrab dipanggil Kang Entus, mengawali pembicaraan tentang Karinding. Tak banyak yang mengenal alat musik ini. Dan tentu tak sembarang orang pula yang bisa memainkannya. Kalau dilihat dari bentuknya, Karinding hanyalah sebilah bambu yang di raut dan dibentuk seukuran satu jengkal tangan dewasa. Walau bentuknya sederhana, bagi yang piawai memainkannya, potongan bambu ini bisa mengeluarkan nada pentatonic.

Karinding1 Kang Entus Belajar otodidak cara memainkan karinding kepada Man Jasad, Utun Sundawan, Okid Gugat, dan Abah Olot sang maestro Karinding.  kini Kang Entus tergabung dengan seniman lain dalam wadah Istana Contong di kawasan Ujung Aspal, Pondok Gede, Kotamadya Bekasi. “Ada rasa bangga ketika memainkan sebilah bambu yang pernah dimainkan para leluhur enam abad yang lalu.” katanya dengan bangga. Pada sejarahnya, karinding adalah alat yang dipakai untuk mengusir hama oleh para petani di tanah Pasundan.

Bentuknya pipih setebal 2 hingga 3 milimeter yang dibuat menjadi tiga bagian ceruk.  Ceruk pertama selebar tiga jari, ceruk kedua selebar dua jari, dan ceruk ketiga selebar empat jari atau lebih. Jenis karinding bisa di diketahui dari lebar ceruk pertama dan ceruk kedua. yaitu Karinding Toel (Karinding Sentil) dan Karinding Buhun (Karinding Pukul). Pada Karinding Buhun ceruk pertama berbatas sekat menonjol selebar lima milimeter sebagai tempat memukulkan jari agar Karinding mengeluarkan bunyi. Sekat ini tidak terdapat pada Karinding Toel karena memainkannya pun dengan cara disinggung (ditoel) dengan jari seperti mencolek dari depan ke belakang atau sebaliknya.

karinding2

Pada ceruk kedua setiap Karinding terdapat sebuah jarum pipih setebal satu milimeter atau lebih tipis dari ketebalan Karinding tersebut yang akan bergetar jika ujung Karinding dipukul atau ditoel sesuai dengan jenis Karinding yang dimainkan. Jarum inilah yang mengeluarkan bunyi ketika ceruk kedua ditempelkan ke mulut pemakainya. Resonansi dari getaran jarum Karinding dipantulkan oleh rongga mulut akan menjadi nada unik dari Karinding.

Jumlah jarum yang terdapat pada Karinding menjadi pembeda antara Karinding Jalu (Karinding Laki) dan Karinding Bikang (Karinding Betina). Karinding Jalu mempunyai satu jarum saja dengan suara yang lebih nyaring dari Karinding Betina yang memiliki dua batang jarum.

Dengan dialek Sunda yang kental, Kang Entus bercerita tentang perkenalannya dengan Karinding. “saya kagum dan haru karena pada awalnya Karinding dikenalkan oleh Komunitas Homeless di Bandung tahun 2000-an pada pertunjukan-pertunjukan musik keras.” Jelas pria 32 tahun yang juga piawai memainkan alat musik Celempung, Digderidu, dan Suling Pentatonis.

karinding3

Walau Karinding sudah menjadi alat musik yang mulai dikenal luas, namun Kang Entus belum berniat untuk memproduksi alat ini music dari sebilah bambu ini.  “Kita masih dalam tahap mengedukasi masyarakat tentang keberadaan alat musik warisan Leluhur Tanah Pasundan.” Jawab pendiri Saung Bambu di Desa Seni, kawasan Taman Mini Indonesia Indah ini.

“Saya sendiri malah memakai Karinding buatan Abah Olot Cicalengka dan Distro Remains Cihampelas.” Sambungnya, sambil menunjukkan enam Karinding koleksinya yang terdiri dari dua buah Karinding Toel dan empat buah Karinding Buhun.

Kang Entus menilai masyarakat Bekasi sangat adaptif dalam menerima dan mengeksplorasi hal baru, termasuk alat musik Karinding. Hal ini membuat Karinding mudah diterima dan mendapat dukungan luar biasa di Bekasi. “Terlebih dengan latar belakang Kerajaan Tarumanagara yang erat kaitannya dengan Leluhur Pasundan tanah kelahiran Karinding.” puji Kang Entus menutup percakapan kami malam itu.

CAPRIT SANTOSO

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.