Kami Juga Manusia

 

Suasana mulai riuh siang itu. Beberapa lelaki mulai menyusun diri berbaris untuk bersiap dari pintu besi yang membatasi mereka ke ruang lain. Di sudut lain, seorang pria bercelana pendek tanpa baju tampak bergulingan di lantai sambil merajuk. Ya, ini merupakan jam makan siang para penghuni Panti Rehabilitasi Cacat Mental milik yayasan galuh yang beralamat di jalan Cut Mutiah Kp. Sepatan Gg. Bambu Kuning IX RT 03/02 Sepanjang jaya Kec. Rawalumbu Kota Bekasi.

Nina Mardiana, sekretaris yayasan juga sibuk hilir mudik melayani beberapa tamu yang datang berkunjung. Awak media merupakan salah satu tamu yang paling meliput kegiatan di yayasan ini. Sementara para pekerja yayasan lainnya tengah mempersiapkan makanan untuk penghuni panti.

IMG_2966

Menurut Nina, yayasan yang sudah sejak tahun 1982 ini sekarang menampung 325 orang pasien yang berasal dari seluruh Indonesia dan terdiri dari 265 laki-laki 60 perempuan. Untuk mengurus mereka Yayasan Galuh mempekerjakan 44 karyawan.

Awalnya yayasan ini berdiri karena kepedulian Gendu Mulatif, pendiri yayasan yang prihatin karena banyaknya para penderita cacat mental yang dianiaya oleh keluarganya sendiri, bahkan oleh warga sekitar. Pada waktu itu penangan dan terapi  juga  lebih banyak dilakukan secara tradisional.

IMG_2961

Namun saat ini, setiap pasien yang masuk ke panti rehabilitasi ini akan didiagnosa secara menyeluruh. Pertama dilakukan asesmen analisa, dilanjutkan dengan diagnose dokter keperluan obatnya secara medis dan secara tradisional dilakukan urut dan doa. “Ada tingkatan kondisi pasien di sini. Pasien yang akut, mulai pulih dan sudah pulih,” jelas Nina.

Berbagai kegiatan dan aktivitas juga diterapkan kepada pasien sesuai dengan minat mereka. Diantaranya bermain musik, olahraga, mengaji dan berbagai kegiatan lainnya.

Bagi pasien yang memang memiliki keluarga Yayasan Galuh mewajibkan keluarga harus jenguk minimal satu kali sebulan. “Proses rehabilitasi tak bisa tanpa dukungan keluarga karena dengan dukungan keluarga kemungkinan untuk pulih akan lebih cepat selain pendekatan psiko farma atau medis. Semua harus didukung holistic approach,” papar Nina. “sedangkan pasien yang sudah pulih akan dikembalikan kepada keluarga mereka,” imbuhnya.

Menangani pasien yang lebih sering disebut masyarakat sebagai ‘orang gila’ tentu banyak suka dukanya. “kadang kita sudah lakukan berbagai treatmen selama bertahun-tahun, tapi mereka menunjukkan gejala untuk pulih,” ungkap Nina sedih. Namun menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Nina dan seluruh karyawan di yayasan Galuh ketika menyaksikan pasien mereka bisa pulih. Bahkan ada diantara pasien yang akhirnya menikah di yayasan ini.

Mengurus ratusan pasien ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Menurut Nina, Setidaknya dibutuhkan 90 juta rupiah setiap bulannya untuk berbagai keperluan, terutama untuk kebutuhan makan pasien, dan gaji para pekerja.

IMG_2997

Selain bantuan dari Pemerintah Kota Bekasi, Kementrian Sosial beberapa donatur tidak tetap juga melengkapi kebutuhan tersebut. Namun tentunya perhatian dari masyarakat lebih dibutuhkan untuk memperlakukan pengidap cacat mental sebagaimana layaknya manusia. Karena memang mereka juga adalah manusia. (RAHMAN  FAISAL HASIBUAN)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.