Jamblang, Tularkan Budaya Sedini Mungkin

Melihat bocah bermain bersama sambil teriak gembira dan  berlarian atau memainkan sesuatu di lapangan terbuka, sepertinya sudah menjadi pemandangan yang langka untuk disaksikan saat ini. Apalagi bermain bersama dengan permainan tradisional yang dulu  menjadi bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan seorang anak.

Tekhnologi seakan mengubah semuanya. Anak-anak sekarang lebih asyik sendiri bermain gadget di genggamannya daripada berlarian di luar rumah. Beberapa permainan tradisional yang notabenenya menjadi bagian dari pembelajaran nilai-nilai luhur dan kearifan lokal pelan-pelan mulai menghilang.

SONY DSC

Ending Hasanuddin (54) putra asli Lemah Abang, yang akrab disapa kang Ending, adalah salah satu budayawan Bekasi, yang tak ingin melihat nilai-nilai luhur dari permainan anak tradisional terutama yang ada di Lemah Abang Kabupaten Bekasi, hilang disapu zaman.

Sejak 12 April 2010 terbentuklah dari kumpulan anak-anak pesantren kemudian tercetuslah jalinan bermain anak dan dinamakan Teater Jamblang. “Saya sangat cinta sekali pada Lemah Abang makanya segala sesuatu pasti saya kaitkan dengan nama daerah tersebut, hampir semua yang saya buat mulai dari makanan, komunitas sampai ke seni pun tidak akan lupa untuk saya pakai unsur Lemah Abang,” papar Kang Ending tentang kampungnya.

Teater Jamblang (jalinan main bocah lemah abang) merupakan teater dengan segala rupa yang ada, mulai dari memperkenalkan permain anak-anak tradisional, makanan tradisional, serta lagu-lagu sunda khususnya untuk daerah Lemah Abang itu sendiri. Anak-anak bernyanyi dengan lagu hasil karya pemilik teater jamblang.

Bahkan demi memajukan Seni dan Budaya di Lemah Abang, kang Ending rela mengurangi aktivitasnya sebagai pengajar, dan lebih memfokuskan pada perkembangan Teater Jamblang yang dibidaninya.

“Sebelumnya saya pernah mendirikan teater bengkel seni 12 di Unisma, kemudian menjabat menjadi Pudek (pembantu dekan) 3 hingga tahun 1994, dan juga menjadi dosen Fakultas Ekonomi Unisma sampai sekarang karena saya sibuk untuk mengurusi anak-anak teater, untuk hal mengajar saya sudahi dahulu dan memfokuskan ke satu saja,” jelasnya.

IMG_0845Jalinan permainan yang dilakukan bukan hanya bermain biasa tetapi main yang mengangkat sebuah budaya. “Seperti permainan anak tradisional ular naga panjang maka sekarang saya ganti ke dalam bahasa sundanya seperti oray-orayan, agar si anak lebih mengetahui dan saya juga ingin mengangkat lagi permainan budaya dahulu yang hampir hilang ditelan zaman sekarang,” tegasnya.

Unsur dalam teater jamblang ini tidak hanya mementaskan sebuah drama tetapi juga lagu serta ciri khas lain yang masih tradisional dari budaya Sunda pun diperkenalkan. “Walaupun hanya kumpulan bocah-bocah tapi teater ini sudah pernah mementaskan drama berjudul ‘Kabayan masuk pesantren’, jadi tetap ada khas sunda dan juga betawinya. Kemudian pementasan drama maulid bertajuk ‘Di persimpangan antara surge dan neraka’. Semua mengandalkan anak-anak teater jamblang yang sudah dilatih sebelumnya,” paparnya.

Teater Jamblang juga menyisipkan lagu anak-anak khas Lemah Abang dalam setiap pertunjukan drama. Mereka ingin mengangkat nuansa Islami dan daerah khas asal teater jamblang. “Kalau ada panggilan pertama memperkenalkan Lemah Abang dimata kecamatan yang lain, kedua kita memperkenalkan islaminya dan lagu-lagu sundanya juga contoh tak soraya beduk batur,” ungkap Kang Ending penuh semangat.

Teater Jamblang juga menampung anak-anak dari usia yang beragam. Anak-anak MDT – TPA Da’arul Qiro’ah, Kampung Cibeber, Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi. Mulai dari umur 8 sampai 12 tahun.

IMG_0833“Ada 50 anak di teater Jamblang. Di sini ditatar dengan baik untuk bisa mempunyai kemampuan yang luar biasa. Jadwal latihannya mulai dari Sabtu dan Minggu pukul 8 pagi hingga 6 sore dan apabila anak-anak terlihat lelah maka saya pun membuat suasana sesantai mungkin biar mereka betah,” paparnya.

Rencananya bulan April 2016 nanti mereka mengadakan wisata budaya. Kegiatan ini dikhususkan untuk anggota teater yang duduk di kelas enam SD, karena telah menyelesaikan ujian nasional (UN). “Saya ingin tetap mengenalkan mereka budaya sebelum nantinya mereka dewasa agar mengingat kembali indahnya budaya kita. Mereka akan saya ajak ke beberapa lokasi seperti ke Tasikmalaya, Kerajaan Galuh, juga Kerajaan Kawali,” jelasnya.

Kehadiran Teater Jamblang di Lemah Abang ditujukan guna membantu perkembangan anak-anak agar lebih mengenal budayanya sedini mungkin. “Saya hanya ingin mereka terhindar dari tingkah laku anak zaman sekarang yang hanya tahu permainan dari akses menggunakan internet. Akibatnya sang anak tidak mengenal lingkungannya sendiri. Bahkan untuk ketawa bareng temannya pun sangat jarang dijumpai saat ini,” imbuh Kang Ending prihatin.

Tak sekedar berlatih lagu sunda dan bermain, anak-anak yang aktif di teater Jamblang juga diajarkan pula cara menulis naskah drama dan skenario seperti apa bentuknya, khususnya untuk anak yang sudah berumur diatas 12 tahun. “Alhamdulillah. Saya ingin sekali melihat mereka tumbuh dengan budaya yang kita miliki,” ujar Kang Ending bangga.

Kehadiran Teater Jamblang selama enam tahun juga mendapat respon positif dari para orang tua dan warga Lemah Abang lainnya. “Hasil yang saya peroleh sampai saat ini sangat positif dan memberikan keuntungan pada saya, buat anak-anak dan masyarakat,” pungkas kang Ending, menutup pembicaraan siang itu.

ELSI  FIDRIANI

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.