INSAN KAMIL

DECY C. HASAN (Kolomnis)

Jarum jam terasa cepat bergerak seolah sedang mengejar angka sebelas. Sebagian badan jalan yang dilalui gulita. Sepanjang jalan kehidupan siang sudah terlewati untuk kemudian dimulai kembali esok harinya. Malam sudah jatuh dan di beberapa sudut  geliat malam semakin terasa.

Malam itu, bukan waktu yang tepat untuk bertandang ke rumah seseorang. Tetapi, bagi lelaki penggila Leo Kristi ini, pertemanan di atas segalanya. Malam bukan halangan menerima kehadiran saya di kediamannya di kawasan Tambun.

Rumah dua lantai yang lapang itu seolah berpintu tanpa daun; menerima siapa pun yang datang dengan penuh kehangatan. Di sana, di rumah berpintu tanpa daun itu, terlebih dahulu sudah hadir dua teman lainnya, yang sama-sama ingin menikmati malam di pinggir Kota Bekasi. Pemilik rumah menyeduh sendiri kopi susu dan menyorongkan sepiring gorengan.

Pembicaraan bergulir, dari urusan kenangan hingga harapan. Dari mulutnya cerita apa pun tak nampak usang. Lelaki ini cenderung lugas dan apa adanya, tapi tetap pandai merasa dan meraba. Kegelisahan saya begitu kasat ia temukan.

“Kembali ke laptop, jadi ada apa sebetulnya,” katanya.  Lugas, tegas, dan langsung ke sasaran. Dan meluncurlah segala keluh kesah dan himpitan beban. Tindihan masalah yang harus diselesaikan meruak tak terkendali, hingga akhirnya kekang itu ia ambil alih. Segala yang tampak buntu dan tak mungkin, selesai dalam sekejap ketika keluar seluruh jawaban bantuan yang saya tahu datang dari hatinya.

Sejak mengenal lebih dekat lima tahun lalu, kakak kelas di SMAN 1 Bekasi ini memang sulit ditemukan padanannya. Perawakan tegap, rambut lurus yang nampak sulit disisir rapi, kumis yang tipis sepanjang masa tak sebanding dengan kebesaran hatinya.

Bukan kali ini saja perjalanan saya membentur tembok dan ahli bebatuan dari Institut Teknologi Bandung ini mengulurkan tangan tanpa ragu dan tak berhitung rugi laba.

Bagi saya dan teman-teman lainnya ia adalah ayah yang melindungi, teman diskusi yang luar biasa, sahabat yang bersahaja dan teman ngemil yang menyenangkan. Di atas segalanya dialah pencetus dan penjaga jargon kami;  “B’temenan Ampe Modar.” Menjaga Bekasi menjadi obsesinya tanpa henti.  Sehingga segala tembok penghalang dalam semua upaya memperbaiki dan membangun Bekasi lewat gerakan dan kegiatan ia dukung dengan tak hanya tenaga, tapi juga dengan hatinya.

Tak salah dia menyandang nama Insan Kamil. Al Insan yang bermakna manusia dan Al Kamil yang merujuk arti sempurna. Dan dengan segala kemanusiaannya, ia adalah manusia sempurna. Tidak selalu dalam arti sempurna tanpa noda, apalagi bebas dari dosa layaknya nabi.

Manusia yang sempurna dalam kehidupan sosial adalah manusia yang rela menjadi lilin sekaligus api yang membakar dirinya sendiri demi menerangi sekelilingnya. Orang baik dalam habluminannas atau hubungan antarmanusia, manusia yang memanusiakan. Insan yang menghayati Dharma (kebajikan) dan Karuna (welas asih) sehingga kisah macam Rohingnya tak terjadi.

Barangkali ini kolom saya yang melankolis; keluar dari kebiasaan untuk berjarak, dan rasanya kali ini saya mendedikasikan tulisan ini untuk emosi yang tak terbendung.

Malam itu panas seperti menyengat. Rasa gerah yang melanda berembus hingga ke ubun-ubun. Tapi rasa dingin telah menyelimuti dada yang sebelumnya terasa sesak. Gorengan dan bakwan menghangatkan malam itu. Kopi direguk kian dalam. Insan Kamil telah menyempurnakan malam dengan persahabatan dan kasih sayang.

Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir batin.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.