Batik Keren dari Bekasi

Walaupun digarap dengan alat tradisional, banyak orang yang sependapat bahwa batik tak akan lekang oleh masa dan mode. Begitu juga dengan Batik Bekasi.

Batik Bekasi pernah tercatat ada masa kolonial. Batik dikenal dengan sebutan Batik Tarawang, dan pernah diikut sertakan dalam pameran Batik Jawa, yang diadakan pada tahun 1892 di Amsterdam, Belanda. Batik tersebut di buat oleh keluarga Tan-Tjeng-Kwat.

Pada tahun 1860, Batik Tarawang atau dikenal juga sebagai Batik Tarum, telah di produksi oleh Vincen Hegen, istri pelukis Raden Saleh. Kemudian tahun 1931, Pal Mooyen, seorang warga Belanda yang tinggal di Bandung, yang mengoleksi Batik Terawang Tarum, pernah memamerkan koleksi pribadinya pada sebuah pameran Negara Hindia Belanda.

Sejak tahun 2010, Batik Bekasi mulai bangkit lagi. Digawangi oleh Barito Hakim Putra, para pengrajin Batik Bekasi kemudian membentuk sebuah koperasi yang diberi nama Komunitas Batik Bekasi atau KOMBAS yang beralamat di Pasar modern Betos blok D 16”.

“Melalui Komunitas Batik Bekasi (KOMBAS), teman-teman terus memperkenalkan batik Bekasi kepada masyarakat seperti mengadakan pameran dan pelatihan kepada masyarakat yang ada di Bekasi”, Ujar Barito.

Munculnya kembali Batik Bekasi juga diperkuat dengan peluncuran 12 pakem Batik Bekasi pada HUT Kota Bekasi ke 17, 10 Maret 2014 lalu, oleh Walikota Bekasi Rahmat Effendi. Ke 12 pakem tersebut terbagi dalam 5 kategori. Flora, dintaranya Bambu, Buah Kecapi, Bunga Melati dan Teratai. Fauna, diantaranya Ikan Gabus, Lele, Ikan Sepat dan Ikan Betik. Sejarah, diantaranya Gedung Juang Tambun, Kali Bekasi, Monumen Perjuangan dan Bambu Runcing. Budaya, diantaranya Tari Topeng, Legenda Rawa Tembaga dan yang terakhir yaitu Permainan anak, seperti Benteng serta Tanidor, dan Batik Terang warna Hijau Lumut, Hijau Daun dan Merah Tanah.

Berdasarkan data dari Komunitas Batik Bekasi, seiring dengan mulai munculnya kembali Batik Bekasi, beberapa Pusat kerajinan Batik juga tumbuh di beberapa tempat di Kota Bekasi. Diantaranya Adelia Batik di Kaliabang Nangka, Candrabaga Batik di Bekasi Barat, Valentine Batik di Jati Sampurna dan Sri Batik di Mustikasari.

 

Sebagian besar batik yang dibuat adalah batik tulis. Proses pembuatan Batik Bekasi juga tak berbeda dengan daerah lain. Mulai dari membuat pola pada kain Mori dengan menempelkan lilin batik menggunakan canting, Nembok atau menutup bagian pola, Medel yaitu mencelup mori yang sudah diberi lilin batik ke dalam warna biru, Ngerok dan Nggirah atau menghilangkan lilin, serta Mbironi yaitu menutup bagian yang tetap berwarna biru. Proses tersebut akan diakhiri dengan Nyoga, yaitu mencelup mori ke dalam larutan soga. Dan Nglorod yaitu menghilangkan lilin batik dengan air mendidih.

Menurut Barito, harga Batik Bekasi bervariasi, tergantung tingkat kesulitan pada proses pembuatannya. “Paling mahal Batik Tanahan, dengan pola pewarnaan yang diatas 4 warna. Harganya bisa diatas 3 jutaan, sedangkan untuk yang paling murah untuk batik tulis itu seharga Rp 250.000 untuk satu warna,” jelas Barito. “Saat ini yang laris motif seperti motif Bambu, Tugu, Kecapi, Rawa Bekasi, dan Topeng Bekasi,” imbuhnya.

Komunitas Batik Bekasi menyebutkan setiap perajin Batik sudah punya pasar atau pembeli sendiri. Penjualannya juga bervariasi. Mereka juga selalu berpromosi melalui media sosial dan berbagai pameran. Sekarang ini peminat Batik Bekasi masih terbatas pada kalangan aparatur pemerintah Kota Bekasi, dan para pengajar atau guru.

Komunitas Batik Bekasi mengakui tidaklah mudah membudayakan masyarakat Kota Bekasi memakai Batik yang menjadi ciri khas kota ini. Sejak Batik Bekasi kembali di perkenalkan, masyarakat Kota Bekasi masih dan hanya menjadikan Batik Bekasi sebagai koleksi saja, atau hanya menggunakannya saat tertentu, seperti pernikahan, atau acara resmi lainnya. Jarang dipergunakan untuk sandang sehari-hari, baik untuk bekerja atau beraktivitas lainnya. “Pemerintah Kota Bekasi harus aktif memperkenalkan dan menumbuhkan rasa mencintai Batik asli Kota Bekasi, kepada masyarakatnya yang heterogen ini,” Jelas Barito.

Sementara Andi Sopandi, Sejarawan Budaya Kota Bekasi, mengatakan Batik Bekasi kalah bersaing dengan jenis Batik dari kota lain di Indonesia. Penyebabnya adalah pengrajin batik asli semakin minim jumlahnya. “Saat ini keberadaan batik asli Kota Bekasi boleh dikatakan berada dalam posisi seperti mati suri. Selain belum banyaknya yang mengetahui Batik asli Bekasi, di sisi lain masyarakat Kota Bekasi lebih menyukai Batik daerah lain, dari pada batik daerahnya sendiri,” jelas Andi.

Sudah seharusnya Masyarakat Bekasi berbangga dengan warisan dan kekayaan Bangsa yang dimilikinya. Batik bukanlah sekadar memenuhi kebutuhan sandang, didalamnya ada karakter dan identitas kita sebagai Bangsa. Masih perlu kerja keras untuk membuat Batik Bekasi mewarnai Kota Ini.

ARPAH MASPULPAH

batik9 batik-Barito.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.