BIR PLETOK Warisan Kolonial Citarasa Lokal

Suara “pletak..pletok…,” dari gerakan biji pala di dalam rongga bambu yang beradu ketika dikocok untuk mendapatkan buih hingga menyerupai bir, itulah awalnya orang menyebut nama minuman bir lokal ini. Bir Pletok.

Budaya minum Bir yang dibawa oleh kaum kolonial perlahan membuat pribumi merasa penasaran dan ingin mencoba apa yang mereka lakukan. Namun sebagai orang timur yang memegang teguh hukum adat dan hukum agama, tak mudah bagi mereka mendapatkan minuman mahal tersebut.

Kebiasaan kaum kolonial yang meminum sajian minuman keras berwarna merah dan berbusa di setiap kesempatan pesta atau acara resmi menarik perhatian warga kala itu. Maka beberapa orang Betawi mulai berfikir untuk mencoba membuat sendiri. Diraciklah bahan minuman yang didapat dari tumbuhan dan rempah di sekitar kebun mereka.

Untuk mendapatkan rasa hangat dipakai rempah berupa Jahe, Lada Hitam, dan Cengkeh. Sedangkan warna merah didapat dari serutan Kayu Secang. Untuk menambah rasa dan wangi, ditambahkan rempah Serai, Kapolaga, Kayu Manis, Daun Jeruk, dan sedikit rempah Pala untuk mengeluarkan rasa sedikit pahit seperti Bir yang diminum para petinggi dari Eropa tersebut.

Membuatnya juga tidak terlalu rumit. Air yang sudah mendidih  dimasukkan Jahe merah yang sudah dikupas dan ditumbuk kasar hingga mengeluarkan aroma khas. Kemudian ditambahkan lada hitam, cengkeh, serai, daun jeruk kapulaga dan pala. Terakhir masukkan potongan kayu secang untuk menghasilkan warna merah pada rebusan air tersebut.

Untuk mendapatkan buih, atau busa sehingga terkesan sebagai minuman yang menyerupai bir, sebelum dihidangkan air tersebut dimasukan dalam bambu ditambahkan dua buah biji pala dan dikocok. Ketika dituangkan ke gelas, maka menghasilkan busa diatasnya. Minuman ini enak dihidangkan dalam kondisi hangat maupun dingin. Minuman yang sangat berkhasiat dan tidak membuat mabuk.

Saat ini bir pletok mudah di dapatkan. Banyak toko oleh0oleh khas Betawi yang menyediakannya. Salah satunya adalah pasangan Wiwin dan Kimung, di Kampung Jati, Kelurahan Jatimulya, Tambun Selatan, Kota Bekasi.

Awalnya Wiwin dan Kimung hanya membuatkan Bir Pletok hanya untuk konsumsi teman-teman yang berkunjung ke rumahnya di akhir pekan. Wiwin mendapatkan ilmunya dari dari orangtuanya, Babah Nongkin, yang sekarang menjadi merek Bir Pletok buatannya.

Selama bulan puasa, banyak yang memesan produk Wiwin pada malam hari. Minuman yang sudah dikemas dalam botol ini memang banyak manfaatnya untuk kesehatan. Dalam sehari dapur Wiwin bisa menghasilkan 40 botol Bir Pletok ukuran 300 ml.

“Kami berusaha membuat Bir Pletok mirip dengan Bir Pletok di jamannya. Memasak dengan kayu bakar, pencampuran rempah, meskipun kemasannya sudah menggunakan  botol.” Papar Wiwin.

Minum Bir pletok di saat sahur dan berbuka masih ditemukan di sebagian kecil penduduk Bekasi. Memang hanya kalangan tertentu yang masih menyukai minuman ini. Bir Pletok memang belum bisa mengalahkan jumlah penggemar berbagai jenis minuman lain yang banyak tersedia untuk pelepas dahaga ketika berbuka, atau sebagai minuman kesehatan ketika sahur.

PLETOK5CAPRIT SANTOSO

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.