YAN RASYAD DAN BEKASI UNITED

YAN-RASYADMALAM sudah jatuh di Bekasi. Yan Rasyad terlihat belum ingin mengakhiri obrolan malam itu dan tak ingin cepat-cepat meninggalkan pusat perbelanjaan Summarecon Bekasi. Betawi Corner yang menyediakan aneka makanan Betawi, tempat kami ngeriung, sebentar lagi tutup. “Olahraga Kota Bekasi tak boleh tertinggal dari daerah lain,” kata Yan.

Awal April lalu, saya dan beberapa teman berkesempatan ngopi bersama Yan di restoran Duck King, sebelum berpindah tempat di Betawi Corner. Obrolan seputar olahraga Bekasi dan sepak bola yang berpindah- pindah topik itu, tanpa batas. Padahal, Yan Rasyad, Ketua KONI Kota Bekasi, adalah orang yang baru saya kenal.

Yan lahir di Bekasi, 12 September 1961. Selain Ketua KONI, adalah Ketua Kosgoro Kota Bekasi, Ketua Aspekindo Kabupaten Bekasi, dan Ketua PHRI Kota Bekasi. Sebelum menjadi ketua induk cabang olahraga di Kota Bekasi, Yan tercatat sebagai Ketua Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Perserosi) Kota Bekasi.

Bang Yan, demikian saya memanggilnya, begitu runtun bicara olahraga. Dia cerdas, bisa menjadi pendengar yang baik, dan bicara dengan bahasa olahraga. Visinya jelas dan obsesinya membangun olahraga di Kota Bekasi sangat realistis.

“Setiap daerah nantinya diwajibkan punya dua cabang olahraga unggulan. Kita sudah punya angkat besi
dan catur,” kata Yan. “Tapi setidaknya kita harus punya lima cabang olahraga unggulan.”

Darah Yan terlihat seperti “mendidih” ketika saya memancingnya tuk bicara sepak bola. Dia paham betul, dalam perjalanan sepak bola di negeri ini, Bekasi ikut berperan. Bekasi tak hanya telah melahirkan pemain- pemain tuk tim nasional, sebut saja Warta Kusuma dan Maman Suryaman, tapi terus memunculkan bibit-bibit pemain yang bertebaran di sekolah sepak bola. Tentu saja Yan terusik ketika saya katakan pembinaan sepak bola di Bekasi tak boleh tersendat. “Ya, tahun ini kita akan bangun tiga stadion mini dan tahun depan sudah disetujui pembangunan empat stadion dari sepuluh stadion yang kami targetkan yang harus ada di setiap kecamatan,” kata Yan.

Yan Rasyad seperti mati langkah ketika saya mulai menyinggung keberadaan Persipasi Bekasi. Saya memahaminya jika kali ini dia hanya jadi pendengar. Kami sangat mengerti bahwa Yan tak ingin berpolemik seputar penggabungan Pelita Bandung Raya dengan Persipasi yang dimiliki 33 klub anggota Persipasi.

Alih-alih membicarakan Persipasi, Yan malah mengajak kami urun rembuk soal pembinaan sepak bola yang berjenjang dan berkesinambungan di Kota Bekasi. Dia sangat setuju dengan gagasan “Road to Patriot” sebagai wadah pembinaan bagi pemain-pemain usia dini.

Tapi bagaimana dengan Persipasi?

Lagi-lagi Yan terdiam. Dia memilih menjadi pendengar ketika saya menjelaskan bahwa Persipasi, klub kesayangan masyarakat Bekasi, tidak lagi menjadi milik orang Bekasi, dan bahkan suatu saat bisa pergi dari Bekasi.

“Bagaimana jika kita bikin klub baru dan kita daftarkan ke PSSI,” tanya Yan. “Sangat mungkin, dan kita namakan Bekasi United,” kata saya. “Saya setuju,” kata Yan. Malam sudah semakin malam di kawasan Summarecon Bekasi. Tepat pukul 00.15, kami bubar dan membawa obsesi masing-masing yang segera kami wujud kan.

YON MOEIS

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.