GEDONG TINGGI Saksi Bisu Geliat Bekasi

http://4.bp.blogspot.com/-gStv0pZjPUE/UoWWIwDID9I/AAAAAAAAASg/AddVWyxIRUQ/s1600/joang.jpg

SEJUMLAH  aktivis kebudayaan kembali dibuat berang. Kali ini ke marahan itu dipicu oleh pro-gram acara televisi bertajuk “Blu sukan” yang dibintangi RaffiAhmad itu menampilkan Gedung Juang sebagai
bangunan tua berhantu. Ini sudah kese-kian kalinya Gedung Juang atau yang dulu dikenal sebagai Gedong Tinggi ini dipublikasikan lewat asumsi klenik.

Sebelumnya, di wahana area rekreasi Waterboom Cikarang pun pernah dijual sensasi yang sama dengan membuat wa-hana rumah hantu bertajuk “Hantu Gedung Juang”. Jika hanya klenik yang dikenalinya
dari Gedung Juang, jelas sudah tertakar daya kreatifitas tim dalam program tele-visi itu.

Bangunan berarsitektur neoklasik ini dibangun oleh tuan tanah bernama Kow Tjing Kie tahun 1910. Gedung dua lantai ini penuh dengan sejarah, baik dalam masa perjuangan kemerdekaan maupun
dalam pemerintahan Bekasi.  Dalam catatan sejarah, Gedung Juang yang berada di Jalan Sultan Hasanudin, dekat Pasar Tambun ini merupakan saksi bisu perjuangan rakyat Bekasi saat revo-lusi fisik. KeƟka pasukan Belanda berhasil digedor oleh pejuang Indonesia sehingga mundur ke Klender, Jakarta Timur, para pe juang kemudian menjadikan gedung Ɵnggi ini sebagai pertahanan.

Setelah tentara Belanda benar-benar meninggalkan Bekasi, gedung dua lantai ini kemudian dimiliki dan dikuasai se-orang tuan tanah keturunan Tionghoa ber nama Kouw Oen Huy. Lelaki bergelar ‘Kapiten’ ini mengusai ratusan hektar ta-nah di Kecamatan Tambun, bahkan me -miliki perkebunan karet. Tak hanya tam-bun, tanah dan perkebunan yang dikua-sainya melampaui Teluk Pucung hingga daerah Cakung. Kouw Oen Huy me ngusai Gedung Juang hingga tahun 1942.

Gedung Juang kemudian dikuasai tentara Jepang dari tahun 1943 hingga 1945. Tentara Jepang menggunakan ba-ngunan tua ini sebagai pusat kekuatan-nya dalam menjajah Indonesia.
Namun di tahun 1945, bangunan yang berada di atas tanah sekitar seribu meter ini berhasil direbut Komite Nasional Indonesia (KNI) dan dijadikan Kantor Kabupaten Jatinegara. Namun Belanda
kembali menguasai gedung ini hingga tahun 1949. Baru tahun 1950, Gedung Juang kembali dikuasai pejuang Bekasi pada awal 1950.

PEMANFAATAN GEDUNG JUANG
Kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabu-paten Bekasi (1950).
Kantor TNI Angkatan Darat Batalyon
“Kian Santang”. Sekarang menjadi ba-gian dari Kodam III Siliwangi (Tahun 1951)
Tempat penampungan Tahanan Poli-Ɵk (Tapol) PKI (Tahun 1962).
Pernah digunakan DPRDS, DPRD-P,
DPRD TK II Bekasi dan DPRD-GR.
(Hingga tahun 1960)
Gedung Juang juga sempat dijadikan tempat perkuliahan mahasiswa Aka-demi Pembangunan Desa (APD) yang merupakan cikal bakal Universitas Is-lam 45 (Unisma).
BP-7 dan Kantor Legiun Veteran.
Gedung Sekretariat KPU (Tahun 1999)
Kantor Dinas Kebersihan dan Perta-manan
Sekretariat Kantor Pepabri dan Wre-datama.
Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan
Kantor Tenaga Kerja Pemerintah Ka-bupaten Bekasi.

Sumber : bekasikab.go.id

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.