Stadion Patriot

http://4.bp.blogspot.com/-FjJyBRBS5bY/VOvrQBt-ZiI/AAAAAAAABvc/spfo6ZkPf1A/s1600/Berita%2B3%2B-%2BWarta%2BKusuma%2B(Foto%2BAyi%2BPurnama).JPGHujan yang turun di Kota Bekasi dan membasahi Stadion Patriot tidak akan pernah menggerus jejak
sepatu Warta Kusuma. Dia tak henti melangkah dan selalu pergi ke lapangan sepak bola; merindukan saat-saat indah bersama tim nasional dan, tentu saja, ingin ikut membangun sepak bola Bekasi yang saat ini memudar lantaran Persipasi Bekasi, klub yang dia kawal tiga tahun terakhir ini, terlempar dari deretan tim-tim elite nasional. Persipasi boleh saja “tenggelam”, tapi semangat Warta menumbuhkan kembali sesuatu yang indah itu tetap terpelihara.

“Saya hanya ingin sepak bola Bekasi kembali bangkit,” kata Warta. Akhir Desember tahun lalu, ketika hujan sudah mulai turun di Bekasi, saya bertemu Warta di lapangan sepak bola Legenda Football Academy yang terletak di Perumahan Kota Legenda Bekasi. Dia masih seperti dulu. Melangkah pasti meski tak lagi menahan rasa sakit akibat cidera kaki kiri setelah mengalami benturan dengan pemain India di babak kualifikasi Pra-Piala Dunia 1985 untuk Piala Dunia Meksiko 1986, yang kemudian mengakhiri karier sepak bolanya. Pada 1988, Warta gantung sepatu tapi ia tidak meninggalkan sepak bola.

Jauh sebelum pertemuan itu, kami sering ngobrol di belakang Stadion Patriot, stadion megah yang telah diresmikan secara terbuka pada Maret 2014 dan langsung ditutup tanpa kejelasan kapan dibuka kembali. Di belakang stadion yang disebut mirip Stadion San Siro di Milan, Italia, itu, saya mengajak Warta kembali ke masa-masa usia emasnya. Sesekali dia melempar pandangan ke stadion yang bagian luarnya tertutup dikelilingi pagar seng. Saya tak berani meraba suasana hatinya. Di wajahnya, saya melihat ada keinginan Warta kembali bermain dan stadion yang dia pilih, tentu saja Stadion Patriot, stadion megah yang terletak di jantung Kota Bekasi.

Dia ingin seperti dulu. Piawai menjaga, mengawal, atau menghalau serangan tanpa harus menciderai pemain lawan. Tapi apa daya Warta. Stadion yang berdiri megah yang tak jauh dari tempatnya duduk – di meja tempat kami ngobrol, dua gelas kopi sudah mulai dingin – hanya diam membisu. Dia tidak pernah bisa memahami apa yang terjadi terhadap Stadion Patriot, yang seharusnya sudah menjadi kebanggaan masyarakat Bekasi. Di sana, seharusnya pula, putra-putra terbaik Bekasi, beraksi dan mengharumkan nama Bekasi. Warta tak ingin masyarakat Bekasi nantinya hanya menjadi penonton lantaran tim luar Kota Bekasi ber-home base di sini. Warta Kusuma – dia lahir di Bekasi, 26 Oktober 1962 – adalah pemain hebat di masanya. Perjalanan Warta Kusuma di pelataran sepak bola nasional, tidak datang dan pergi begitu saja. Ia mengawali karier sepak bola di Bekasi Putra pada 1979.

Dari Bekasi, kecemerlangan pemain yang mengaku berdarah Banten itu sebagai stopper mulai terlihat. Tak salah jika Benny Mulyono dan drg. Endang Witarsa, pemilik dan pelatih klub Warna Agung, menariknya dari Bekasi. Dari Warna Agung pula nama Warta Kusuma mulai menjulang ke langit. Ia memperkuat tim nasional sejak bernama PSSI Garuda 1982 hingga tim nasional ke SEA Games 1987 yang diselingi memperkuat tim nasional Pra-Piala Dunia 1985.

Mengangkat kembali Warta, tak lengkap jika tak menghadirkan Marzuki Nyakmad. Marzuki adalah salah satu orang yang pernah dekat dengan Warta. Zuki, demikian Marzuki biasa dipanggil, adalah kawan Warta, baik di dalam maupun di luar lapangan. “Di lapangan, dia (Warta) sangat tenang sekali. Ia memang pemain yang berkualitas. Juga menjadi tugas dia jika ada lawan yang melewati saya,” kata Marzuki. Zuki dan Warta saling mengisi jika sudah membela tim nasional. Jika Marzuki gagal membendung lawan, Warta seketika datang. Begitu pula sebaliknya. Menjadi tugas Zuki jika Warta ada yang melewati. Berduet dengan Marzuki, Warta adalah benteng yang sulit ditembus. Tak salah jika Sinyo Aliandoe, pelatih tim nasional Pra-Piala Dunia 1985, memakai dua stopper yang diisi Zuki dan Warta.

Tidak hanya Marzuki, Fandy Ahmad, mantan pemain nasional Singapura, yang beberapa kali
bertemu Warta di lapangan, juga pernah memuji Warta. “Di lapangan, Warta pemain yang cerdas dan
sangat disipilin,” kata Fandy.Namun catatan perjalanan dan pujian itu tak membuat Warta Kusuma menjadi besar kepala. Warta, anak Bekasi itu, tetap merendah. Ia mengaku bukan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia hanya seorang Warta Kusuma yang tidak berdaya ketika harus menghadapi cidera lutut yang berkepanjangan.Hujan sudah mereda di Bekasi. Tapi, Stadion
Patriot, stadion megah di jantung Kota Bekasi itu, masih tetap basah.
YON MOEIS

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.