Semangat Kebangsaan dalam Kasih Sayang Buddhisme

Semangat Kebangsaan dalam Kasih Sayang Buddhisme
rOnnY hermaWan, S.h.

http://1.bp.blogspot.com/-TO5cCaVd-ZY/U_QOKWMOvNI/AAAAAAAASOc/yiS0DQCfnws/s1600/RonnyHermawan.jpgAda dua hal tegas disampaikan Ronny Hermawan tentang Yayasan Pancaran Tridharma. Pertama, ini bukan yayasan keluarga dan kedua, ini adalah yayasan sosial yang meletakkan diri di atas konsep kebangsaan.

AYAH SAYApernah menjadi ketuanya dan sekarang saya memegang amanah menjadi ketuanya, tapi itu dicapai melalu mekanisme normatif.” Ronny menegaskan amanah itu bukan sebab kedudukannya sebagai anak dari Drs. Rudy Hermawan, S.H., M.H.
anggota DPRD Kabupaten dan Kota Bekasi di tahun 1992-2002 dan pendiri sekaligus ketua Yayasan pancaran Tri Dharma.
tri Dharma, agama politik“Tri Dharma yang kami usung ini sebenarnya aliran yang lahir di masa Orde baru, dalam pandangan saya ini adalah agama politik,” terang Ronny. Ia bertutur bahwa
Tri Dharma lahir untuk menyiasati aturan masa itu. Rumah ibadah didirikan dengan izin satu agama yaitu Buddha.
Pada masa itu klenteng yang bukan rumah ibadah agama Buddha selalu dibarengi dengan wihara sebelah menyebelah. Didaftarkan sebagai Tri Dharma, yang menggunakan tiga patung perlambang tiga keyakinan yaitu Buddha, Kong Hu Chu dan Lao Tse. Di Bekasi saja tercatat ada 16 Wihara Tri Dharma.Kini, Tri Dharma hanya dianggap salah satu aliran dalam perkembangan di lingkungan kaum Buddhis selain Teravadha dari Thailand dan Mahayana yang merupakan aliran terbesar di Indonesia. Sekarang ini, wihara bisa berdiri sendiri, begitu juga klenteng.

Kondisi di masa itu memang bukan cuma membatasi akses agama, tetapi juga hal akses sosial politik. Anggota Dewan lulusan Universitas Borobudur ini, berpendapat pembauran tidak dirasakan sebagai masalah yang riil di lapis bawah.
“Pembauran terhambat justru karena keadaan politik. Kebijakan politik masa itu memang memaksa orang Tiong Hoa hanya berada di kantong-kantong perdagangan dan ekonomi,” jelasnya.
Ehipasiko yang Melandasi“Bagi kami, pembauran itu niscaya. Dalam konsepsi Buddha universal ada konsep Ehipasiko yang intinya adalah memperlakukan segala sesuatu atau seseorang tanpa prasangka,” papar anggota Dewan dari Komis D ini.
Ehipasiko bermakna datang, lihat dan rasakan yang artinya buktikan dan saksikan sendiri baru boleh menilai sesuatu atau seseorang. Prinsip ini diimplementasikan dimana saja, termasuk dalam lingkup Yayasan Pancaran Tri Dharma.
Itu sebabnya, bagi anggota partai Demokrat ini, semangat kebangsaan itu sudah dengan sendirinya
jadi kesatuan dalam semangat kasih sayang Buddhisme.
“Itu sebabnya di Sekolah Ananda dalam lingkup yayasan kami, semua orang diperlakukan sama.
Semua agama diajarkan, disediakan guru dan infra-strukturnya. Tanpa perbedaan,” ujarnya.
Pembauran yang sesungguhnya, menurut Ronny, adalah bagaimana memperlakukan satu sama lain
tanpa perbedaan.“Agama itu landasan pembentukan karakter,” adalah prinsip yang menurut Ronny patut dijadikan landasan. Itu sebabnya di lingkungan Ananda, setiap pagi dilatih untuk meditasi, pemusatan
pemikiran. Tujuannya adalah melatih lebih sering melihat ke diri sendiri setelah sepanjang hari kita
melihat ke luar.
Pendidikan untuk KarakterSekolah Ananda bukan satu-satunya gerak aktivitas Yayasan Pancaran Tri Dharma. Pada awalnya, yayasan ini bergerak untuk membantu warga Buddhis dalam bentuk dana kematian. Bantuan diberikan berwujud dana, peti, rumah duka hingga penguburan atau kremasi. Saat
ini, yayasan sedang berupaya menambah lahan penguburan di wilayah Cikarang.
Gerak yayasan ini melebar hingga aktivitas sosial yang bersifat bantuan langsung, klinik
kesehatan gratis hingga pendidikan. Yayasan ini juga yang membidani lahirnya Sekolah Ananda dari
tingkat TK, SD, SMP, SMA dan SMK hingga STMIK.
“Sekolah ini tetap menjadi ladang gerak sosial yayasan kami dengan cara melakukan subsidi
silang membantu anak-anak tak mampu untuk menyelesaikan sekolahnya,” ujar Ronny. Semua anak
tersebut, menurutnya, diberikan bantuan cuma-cuma tanpa ikatan apapun.Terlepas dari prinsip dalam yayasannya, sebagai
seorang legislator, lelaki berkaca mata kelahiran tahun 1977 ini berpandangan bahwa pendidikan
memang dasar yang paling krusial bagi terbentuknya potensi generasi. Itu sebabnya, Ananda memilih
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu tingkat sekolah yang ditawarkan kepada
masyarakat.
“Kota Bekasi tidak punya sumber daya alam yang dominan tidak punya hutan, mineral, laut dan
perkebunan sehingga harus spesialisasi Kota Jasa dan Perdagangan. Harus diciptakan tenaga siap pakai untuk itu. Itu sebabnya SMK di lingkungan Ananda berbasis akuntansi dan komputer.” jelas mantan Sekretaris DPD KNPI Kota Bekasi ini.
Ia mengkritisi anggaran pembangunan Indonesia yang dahulu lebih banyak dihabiskan di pemberdayaan pangan dan militer. Sedikitnya investasi di bidang pendidikan mengakibatkan Indonesia banyak kehilangan waktu melahirkan sumber daya manusia yang pandai dan handal.
Ronny mengatakan, “Saya mendorong diperbanyak sekolah negeri untuk tingkat menengah untuk menjawab kebutuhan sekolah bagi warga ekonomi lemah.” Ia bercerita bahwa ia pernah diingatkan bahwa dorongan darinya sebagai anggota dewan bisa berimbas pada matinya Sekolah Ananda.
“Saya jawab, saya tidak khawatir, sekolah Ananda akan kekurangan murid dan mati. Itu prinsip buat
saya,” tegasnya lebih lanjut.Menjawab pertanyaan sumber pembiayaan dari aktivitas sosial di lingkup yayasan yang dibinanya, atanya, masih mengandalkan dari donasi dan derma para anggota melalui wihara maupun klenteng. Sampai saat ini, Ronny dan para pengurus merasa belum perlu memikirkan perolehan dana dari sumber lain.
“Jika kita bisa membuktikan bahwa kita kerja dengan tulus dan ikhlas tanpa berharap imbal jasa, ada saja pihak yang mempercayakan bantuannya melalui kita,” tutur Ronny mengakhiri perbincangan
di pendopo belakang di Café miliknya di Jalan Juanda Bekasi

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.