Sekolah Ananda: Sekolah Pembauran Pertama di Bekasi

Sekolah Ananda: Sekolah Pembauran  Pertama di Bekasi

 http://1.bp.blogspot.com/_xJe0kULEsW8/Swzo6_mDY0I/AAAAAAAAADA/Jy2vevu35zU/s320/logo.jpeg

Stupa pada lambang dan Yayasan berasas Budha bukan penghalang nilai Budhis justru merupakan landasan Ananda menjadi sekolah pembauran pertama di Bekasi

DIMUlAI tahun 1986 dengan mendirikan Taman Kanak-kanak, kini di areal yang sama Ananda telah memiliki sekolah dari tingkat SD, SMP, SMA, SMK dan STMIK yang di bangun di wilayah Kampung Cerewet, Durenjaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi.
Sekolah Ananda punya dua bangunan yang dipisahkan jalan raya dengan gedung berlantai tiga dengan luas mencapai 7.135 meter persegi, serta memiliki fasilitas laboratorium IPA, komputer, bahasa, kolam renang, lapangan olah raga dan lainnya.
Berdirinya sekolah ini karena buah pikir sepuluh orang pendiri Yayasan Pancaran Tridharma yang sepakat menggunakan stupa sebagai lambangnya. Sebagai sebuah organisasi yang bersendikan ajaran
Buddha, yayasan ini memilih untuk menerapkan pendidikan kebangsaan yang ditekankan pada
kesamaan dan konsep pembauran. Pembauran melalui Kegiatan Pesantren Kilat
Itu sebabnya, sekolah ini mengusung visi “Sekolah Ananda sebagai sekolah pembaruan menjadikan perbedaan sebagai suatu kekayaan dan kekuatan untuk menjadi sekolah terdepan.” Setelah melampaui 28 tahun sejak pendirian pertama, sekolah ini boleh berbangga telah berhasil mewujudkan dirinya menjadi sekolah yang berwatak pembauran bangsa, inklusif dan terbuka.

ananda“Sejak awal didirikan oleh para orang tua kami di Yayasan Pancaran Tri Dharma dan juga dorongan dari pemerintah, kami selalu diingatkan untuk tidak pernah menjadi lembaga yang eksklusif,” terang Agus yang menjabat sebagai Wakil Kepala Seksi Pendidikan di Sekolah Ananda ini. “Tak ada perbedaan yang kami perlakukan di sini.”Hal yang sama juga ditegaskan oleh Ronny Hermawan sebagai Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma yang menaungi sekolah itu. “Pada prinsipnya sekolah Ananda ini mengimplementasikan semangat yang ditularkan orang tua kami dahulu, “ tuturnya.
“Di Sekolah Ananda ini kami harus dapat mengamalkan ajaran Buddha yang universal yaitu cinta kasih,” tambahnya lagi.

“Yang menarik adalah salah satunya cara kami membina pembauran. Setiap masuk bulan Ramandhan, siswa kami yang beragama Islam akan mengadakan pesantren kilat. Nah, pada waktu yang hampir bersamaan, siswa beragama lain akan belajar kitabnya masing-masing,” cerita ibu Nuni Setiani guru kelas 1 Sekolah Dasar di Ananda. “Sederhananya, pesantren kilat berbagai agama secara bersamaan,” tambahnya sambil tersenyum.Dukungan untuk beribadah bagi agama apapun, tampak dengan disediakannya ruang musholla di sekolah ini. Di sudut sisi kanan bangunan SMK berdekatan dengan arah belakang gedung dan bersisian dengan kamar mandi siswa yang berjajar panjang, sebuah ruang dijadikan musholla. Musholla ini bukan cuma dipergunakan untuk siswa-siswa yang beragama Islam beribadah shalat, tetapi kerap dijadikan tempat belajar mengaji.

Dari luas ruangnya mushalla itu memang tidak terlalu besar, tetapi sekolah menyediakan sajadah-mukena yang terlipat dan tergantung untuk dipakai shalat. Sementara di dinding yang bersebelahan
dengan pintu, ditempatkan sebuah papan tulis untuk membantu siswa belajar mengaji.
Demi tujuan itu, maka Sekolah Ananda mewujudkan visinya dalam dunia pendidikan ke dalam lima misi. Pertama, mewujudkan tercapainya hasil pendidikan dan hasil proses belajar mengajar yang bermutu. Kedua,menciptakan siswa yang berprestasi dan menghasilkan tenaga yang siap dalam memasuki dunia kerja. Ketiga,menumbuh kembangkan penghayatan terhadap agama yang dianutnya dan dapat hidup berdampingan dengan penganut agama yang lain. Keempat, meningkatkan profesionalisme guru. Kelima, menjunjung tinggi kejujuran dalam bersikap dan bertanggung jawab.pecah rekor untuk KreativitasAnanda menyediakan tenaga pengajar yang kompeten dengan cara memadukan pengajar senior yang lentur dalam hal moral dan penanganan anak dan pengajar muda yang berwawasan dan sigap dengan perkembangan teknologi kini. Sehingga secara terpadu akan membentuk dan merancang
pembelajaran yang menarik dan berbasis teknologi informasi (IT).

Untuk tetap mempertahankan kualitas, pihak yayasan mebina kerja sama dengan berbagai lembaga seperti Binus Center dalam bidang IT (Information and Technology), NEC (National English Center) dalam mensukseskan pembelajaran dua bahasa (Bilingual) di SD Ananda. Selain dikembangkan juga kerja sama dengan berbagai pihak lainnya seperti NAC, Erlangga, Yudistira, Kalbe Nutrision, BTN dan lainnya.
Untuk tetap mampu mempertahankan prestasi dan kualitas para siswa, sekolah juga bertanggun
jawab dalam membina hubungan dengan orang tua siswa. Informasi tetang anak dipermudah
pemantauannya dengan sistem SMS Center sehingga agenda dan aktivitas anak terpantau.

Lebih dari itu, di sekolah Ananda ini diberlakukan sistem absensi dengan sidik jari (fingerprint) untuk
memastikan validitas absensi siswa. Sekolah Ananda menekankan bukan hanya hal mengasah kecerdasaan saja, moral dan perilaku akan tetapi juga mencoba membangun kreativitas siswa. 
Salah satu upaya untuk membangun dan merangsang kreativitas siswa adalah dengan ikut dalam berbagai kegiatan di luar sekolah atau antar-sekolah.Salah satu hal menarik yang ditemukan Fokus Bekasidi lokasi adalah para guru dan siswa diikut sertakan untuk mencapai rekor MURI untuk membuat mozaik di atas kain berukuran sepuluh kali tiga belas meter persegi. Di atas mozaik itu akan diwarnai dengan menggunakan kepingan bunga teratai yang dibuat dari kertas origami berwarna merah, kuning dan kuning keemasan.“Rencananya, ini akan dilaksanakan pada tanggal 15 Februari besok di Gedung Grand
Metropolitan Mal Bekasi, berdekatan dengan perayaan tahun baru Imlek,” tutur Agus. Ia menambahkan tidak ada pesan yang khusus dalam pilihan angka 80.000 maupun warna keping bunga teratai dari kertas origami ini. Angka dipilih untuk melampaui rekor lama yang mencapai 60.000 keping bunga. Warna kuning, emas dan merah dipilih selaras dengan warna perayaan Imlek.

“Ini bukan kali pertama kami masuk dalam rekor MURI,” cetus Nuni. “Tahun lalu, kami memecahkan rekor dengan foto siswa dan ibundanya. Seluruh siswa kami yang mencapai dua ribu lebih memajang fotonya dalam konteks gambaran hubungan kasih sayang orang tua dan anak,” tambahnya lagi. Menarik juga cara Ananda menggugah kreativitas siswanya. Sepertinya patut dinanti, kreativitas lain yang akan diukir dalam rekor MURI.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.