Rel Dibentang Warga Membangkang

Double-Double Track (DDT) adalah sebutan untuk proyek pembangunan bentangan empat lajur rel
kereta api, atau disebut juga dengan istilah rel dwi-ganda. Bekasi, sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem commuter lineJabodetabek, suka-tidak-suka, mau-tidak-mau, terkena proyek tersebut.
Proyek ini didanai dari Sukuk (obligasi Syariah) dan pinjaman lunak jangka panjang Japan
International Cooperation Agency(JICA) senilai 41,034 miliar yen atau sekitar Rp 4,1 triliun dalam
waktu 30 tahun. Adapun pengerjaannya, dilakukan secara parsial sesuai kebutuhan dan nilai anggaran.
Proyek yang membentang di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi ini termasuk dalam paket B-2 yaitu pekerjaan DDT lintas Jatinegara-Bekasi. Proyek senilai Rp 2,6 triliun untuk lintasan sepanjang 17 kilometer ini ditargetkan selesai 2016 dan bisa langsung dioperasikan.
Itu artinya, setahun lagi pekerjaan rel dwi-ganda itu harus sudah bisa digunakan. Sementara, hasil di lapangan, pemasangan badan rel untuk perlintasan sudah mencapai wilayah Kranji menjelang stasiun Bekasi.

http://2.bp.blogspot.com/-EG0maZ3sTHk/VKSkWXvevcI/AAAAAAAAAtI/Uz2ROsRI9qU/s1600/1.jpg

Rencananya, apabila proyek ini selesai keseluruhan, akan terdapat empat jalur rel KA dari Manggarai hingga Cikarang. Dengan demikian, kelak jalur Commuter Lineakan terpisah dengan kereta untuk jarak jauh. Empat jalur rel ini akan teminimalisir persinggungan kereta dan pada akhirnya akan menertibkan jadwal pemberangkatan kereta. “Kalau selama ini KRL atau Commuter Line hanya beroperasi hingga stasiun Bekasi sebagai stasiun tujuan akhir, kelak akan sampai Cikarang,” ujar staf Humas PT KAI. “Tentunya jumlah rangkaian dan frekuensi perjalanan KRL juga akan ditambah,” imbuhnya.

Berdasar data KAI Commuter Jabodetabek (PT KCJ), saat ini rata-rata 146.000 penumpang naik dari stasiun Bekasi menuju Jakarta. Sedangkan, dari Jakarta ke Bekasi, setiap bulan tercatat rata-
rata 167.000 penumpang. Jika jalur rel dwi-ganda nanti sudah bisa dioperasikan, maka stasiun Bekasi
memiliki kapasitas menaikkan dan menurunkan penumpang hingga 1 juta penumpang per bulan.
Akan tetapi, jalan menuju realisasi pencapaian target itu tampaknya tidak selurus rel kereta. Proyek
ini ternyata begitu berkelok dan berlubang. Sejak rencana proyek digulirkan tahun 2006, sedikitnya
dua pejabat negara sudah terjerembab pada lubang kasus korupsi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.