Ngetwit Demi Bakau Dan Lutung Jawa

Bekasi punya pantai? Ajukan pertanyaan itu pada warga Bekasi, bisa dipastikan akan terlontar pertanyaan balik dengan intonasi keheranan. Kecuali sebagian besar masyarakat Kabupaten  Bekasi yang tinggal tak jauh dari garis tepian pesisir utara.
SEPERTINYA sebagian besar penduduk Bekasi punya asumsi merata bahwa Bekasi terbatas hanya di Kota Bekasi, Tol Barat dan Tol Timur dan tentu saja Kawasan Industri di Cikarang sana, selebihnya mereka hanya tahu setelah dapat pertanyaan seperti itu.
Padahal garis pantai yang dimiliki Kabupaten Bekasi mencapai kurang lebih 72 kilometer. Ruas wilayah tersebut membentang dari perbatasan Jakarta tepian Marunda hingga menempel bertetanggaan dengan Kabupaten Karawang.
Sepanjang garis tersebut tidak semua memilikikontur yang sama persis, tapi memang sebahagian besar bukan jenis pesisir pantai landai berpasir. Tiga kecamatan dengan wilayah cukup besar yaitu Kecamatan Babelan, Muara Gembong dan Tarumajaya pesisir pantai berupa ekosistem mangrove.
Dahulu, menurut penuturan Maulana Yusuf warga Kp. Kelapa Dua, Desa Jayasakti Muaragembong yang juga  penggagas aktivitas lintas komunitas #SaveMuGo, kecamatan ini adalah daerah terbesar hutan bakau (Mangrove). Sekarang ini ekosistem mangrove tak patut lagi disebut hutan bakau. Bukan cuma kelebatan dan kerapatan pohon
yg hampir tiada, jumlah luasan wilayah mangrove pun banyak terbabat habis. “Padahal, hutan mangrove ini benteng pertahanan daerah saya,” tutur lelaki berperawakan kecil yang biasa dipanggil Uci ini.
Akibat menipisnya hutan, abrasi oleh air laut menjadi hal yang tak terelakan. Menghilangnya sebagian besar bakau menjadi penyumbang derita warga tepi laut, yang mencapai puncaknya di bulan September sampai Maret saat musim penghujan.
Air yang dibawa dari hujan di hulu, belum lagi ombak pasang surut yang membawa rob menjadi titik temu yang membuat Muara Gembong menjadi salah satu titik wilayah yang paling lama tergenang banjir. “Sejak saya duduk di bangku SMP dahulu di sekitar tahun 96 an, kampung saya langganan banjir dan rob,” kisah Uci. Ketua Pengurus Kecamatan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Sekretaris Orsat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI) Kecamatan Muaragembong inimengatakan, Sekolah-sekolah bahkanrutin terhenti kegiatannya karena
tergenang banjir dalam waktu yangtidak sebentar.
Hilangnya kawasan mangrove ini juga mengakibatkan meningkatnyakemungkinan terjadinya abrasi pantai. Tercatat di Kecamatan Muara Gembong saja, luas kerusakan lahan sebesar ± 2800 Ha, diikuti oleh Taruma Jaya mencapai
± 1700 Ha dan terakhir Babelan ± 1050 Ha. Intrusi air laut ke arah daratan juga sudah mencapai 20 – 25 km
dari garis tepian pantai. Maka tidak mengherankanapabila Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (DISTANHUTBUN) Pemkab Bekasi mencatat hanyatersisa 16 % saja hutan mangrove yang masih dalam kondisi baik, 84 % atau sekitar 7000 ha sisanya telah mengalami kerusakan.

 

pohon-bakau-bekasi
Belum lagi ombak yang lebih besar akan menggerus rumah dan pekarangan mereka. Sampai tahun2014 ini, sudah tiga kampung di tiga desa di wilayah Muaragembong hilang dikikis abrasi, yakni Kampung Beting Desa Pantai Bahagia, RT 01 di Pantai Mekar dan RT 16 di Pantai Sederhana. Kejadian terakhir yang paling parah adalah 70 rumah tergerus ombak dan memaksa penghuni berpindah tempat.
Pesisir wilayah Utara Kabupaten Bekasi sangat memerlukan pengamanan pantai. Hal itu dapat dilakukan dengan  membangun penyekat atau pemecah ombak, apalagi  rata-rata dalam radius setiap 20 km ditemui abrasi pantai. Atau tentu saja dengan penanaman kembali mangrove untuk mengembalikan hutan bakau sehingga bisa membatasi pantai dengan penduduk. Dengan demikian warga tidak akan dihantui rasa ketakutan oleh ancaman bahaya dari gelombang yang akan menerjang rumah dan fasilitas lainnya. Hal ini pada akhirnya akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktivitas, melemahnya ekonomi masyarakat dan terganggunya proses belajar mengajar di sekolah. Lembaga Kajian Advokasi dan Informasi Lingkungan Hidup (eLKAIL) Korel Muaragembong, telah  melakukan beberapa kajian dan hasil kajian tersebut menyatakan bahwa kondisi ekosistem mangrove di Kabupaten Bekasi dinyatakan telah mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga membutuhkan penanganan sesegera
mungkin agar laju kerusakan ekosistem mangrove di wilayah pesisir dapat diatasi. “Warga juga sudah minta  perhatian Pemda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat namun hingga kini belum ada tindakan yang berarti,” imbuh Komaruddin Ibnu Mikam, budayawan Bekasi yang bersama-sama Uci dan beberapa tokoh muda di Utara Bekasi menjadi motor penggerak upaya penyelamatan Muara Gembong.
“Hasil kajian-kajian lembaga ini sebaiknya dapat menjadi rujukan pemerintah tentang kondisi wilayahnya dan cara mengatasinya demi kepentingan warga setempat,” jelas Komar yang belum lama ini dikukuhkan Pemerintah Kabupaten Bekasi sebagai anggota tim cagar budaya. Lelaki yang sering berpakaian pangsi merah ini mengatakan bahwa kerusakan ini disebabkan oleh beberapa hal. Salah satu sebab kerusakantak dipungkiri adalah karena pengambilan manfaat langsung oleh masyarakat dengan menukar hutan bakau dengan galengan-galengan tambak yang bernilai ekonomis. Dan hal yang mendorong faktor ini menjadi masif adalah kebijakan yang tidak mendukung
pelestarian lingkungan pesisir, dengan mengizinkan alih fungsi disepanjang green belt (sabuk hijau).
Lebih dari itu Pemda tidak menunjukkan kesungguhan dalam pemeliharan hutan mangrove, paling tidak
dengan membuat Peraturan Daerah yang terkait dengan upaya tersebut.
Hal yang sebetulnya cukup mengganggu upaya mengembalikan kondisi hutan mangrove ini dan menjadi kendala terbesar adalah simpang siurnya hak
kepemilikan atas tanah di atas lahan-lahan penduduk
maupun tambak. Jika menilik pada data yang tersedia
dan peta wilayah, sesungguhnya sebagian besar dari
wilayah Utara ini adalah bagian dari hutan lindung
yang dikelola oleh Perhutani. Akan tetapi, maraknya
izin dan pembangunan seperti kian mengukuhkan
kesimpang siuran tata laksana pertanahan di wilayah
itu. Belum lagi benturan dengan pihak Pertamina
yang menguasai beberpa wilayah sekitar sebagai
titik pengeboran, kian memperbanyak tumpang
tindih pihak. Pada akhirnya terjadi saling lempar
tanggung jawab atas segala permasalahan di
permukaan. Para aktivis lingkungan, diantaranya
Syakiran pernah menanyai dan memohon langsung
perhatian kepada Bupati Bekasi, dr. Neneng Hasanah
Yasin untuk mengupayakan perlindungan satwa di
Muara Gembong untuk Lutung Jawa. Bupati hanya
dapat memberikan janji akan menyampaikan pesan
tersebut ke Provinsi Jawa Barat.
Pelik dan kompleksnya urusan tumpang tindih
birokrasi tanggung jawab ini membuat para aktivis
lebih menfokuskan diri pada hal riil yang langsung
dapat mereka lakukan tanpa perlu melampaui
banyak pernik birokrasi. Keadaan ini yang kemudian
mendorong Komar menggalang lintas komunitas
untuk peduli pada keadaan ini. Perbincangan
beberapa orang ini kemudian, ditindak lanjuti oleh
Uci dengan memulai woro-woro di sosial media
menulis blog dan melucurkan akun twitter dengan
tajuk @Muaragembongku. Digawangi oleh Uci
dengan Dea pelajar SMAN 1 Muara Gembong,
pada awalnya hanya menyuarakan berita-berita
banjir di Muara untuk membantu warga korban
banjir. Selain itu isyu utama yang diangkat adalah
kerusakan lingkungan di sepanjang bibir pantai
pesisir Muaragembong. “Ada kesan kami dianak
tirikan, Muara Gembong seolah tak ada,” keluh Uci.
Twitter ini akhirnya hanya dikelola Uci sendiri sebagai
admin ketika Dea mulai kuliah di Unpad. Kesendirian
tak menyurutkan semangat Uci. Dibesarkan di tepi
Muara Laut dan menjadi bagian dari kehidupan
kesehariannya, Uci merasa beban tanggung jawab itu
harus dipikulnya. “Sebelum saya punya BB, saya lebih
banyak aktif ngeblog untuk tujuan itu pakai nama
www.muaragembongmnagrovers.wordpress.com,”
ungkapnya kepada Fokus, akhir tahun lalu. ”Untuk
twitter, setiap jam pasti saya update, meski cuma
retweet,” tambahnya lagi.
“Followernya tidak terlampu banyak sekitar
1.318 saja tetapi alhamdulillah mampu menyuarakan
dan pada akhirnya menjadi kail yang memancing
banyak pihak mau terjun bersama-sama dalam upaya
penyelamatan mangrove di Muara Gembong,” paparnya
bangga. ewline”> Tidak berlebihan kebanggaan Uci, dalam rentang waktu
kurang lebih 2 tahun sejak aktivasi, kini gerakan aktivitas
penyelamatan bakau Muara Gembong mulai menunjukkan
perkembangan berarti. Dalam kurun waktu dua tahun
terjalin juga gerakan lintas komunitas #SaveMuGo yang
diantaranya Komunitas Bekasi Green Attack, Save Mugo,
GNI , eLKAIL dan beberapa komnitas lainnya. Mereka
bersinergi dengan agenda utama konservasi mangrove di
Muaragembong. “Saat ini kita berkonsentrasi di wilayah
Kp. Beting – Desa Pantai Bahagia karena di situ adalah
daerah abrasi yang paling parah,” jelasnya. “Luasan abrasi
di kampung ini saja tidak sama datanya alias simpang
siur. Versi perhutani sekitar 20 ha sementara menurut
eLKAIL lebih dari 40 ha.” Agenda Lintas Komunitas
biasanya di koordinir oleh komunitas #SaveMugo dan @
muaragembongku1.
Konservasi yang menjadi agenda lintas komunitas ini
sendiri pada prinsipnya berupaya menghadirkan kembali
hutan mangrove. Hutan mangrove atau banyak dikenal
dengan sebutan hutan bakau adalah hutan yang biasanya
ditemui di rawa-rawa air payau, pertemuan air tawar dan
laut. Hutan ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut air
laut. Medium tumbuh hutan ini terjadi di tempat terjadinya
pelumpuran dan akumulasi bahan organik yang biasanya
juga dibawa ke muara sungai oleh air yang melambat dan
lumpur yang mengendap dari hulu. Karena itu hutan ini
memiliki sifat khas yaitu kurangnya areasi tanah, salinitas
tanah yang tinggi dan daur penggenangan pasang surut air
laut. Boleh dikatakan, pohon bakau adalah satu-satunya
familia tumbuhan yang sanggup bertahan di kondisi
ekstrim ini. Salah satu jenis bakau yaitu Rhizophora
mangle, bahkan memiliki sistem perakaran yang hampir
tak tertembus air garam. Air yang terserap telah hampirhampir bisa dipastikan adalah air tawar sebab hampir change-newline”> 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu
melewati saringan akar ini. Tanaman mangrove ini
juga selain dapat berfungsi sebagai penahan abrasi,
dapat berfungsi sebagai penahan dari bahaya abrasi
dan juga berfungsi sebagai penawar racun dan
polutan yang ada di dalam air dan tanah.
Keberadaan hutan bakau ini pada ujungnya
menyediakan habitat hidup yang baik bagi banyak
satwa khas hutan bakau. Di Muara Gembong ini,
satwa liar yang menempati hutan mangrove dan
menjadikannya rumah tinggal diantaranya adalah
Lutung Jawa. Lutung ini biasanya hidup bergerombol
dimana tiap kumpulan biasanya terdiri dari 30 ekor
Lutung. Pada masa kejayaan Muara Gembong hingga
tahun akhir 80 an, saat-saat tertentu ketika Lutunglutung ini mencari makanan menjadi pemandangan
yang menarik. Akan terdengar hiruk pikuk suara
bersahutan lutung ini satu sama lain ketika berburu
udang dan kepiting. Kini, gerombolan semacam itu
hampir tak ada. Jumlah Lutung yang terlihat pun
hanya dalam hitungan satuan saja.
Satwa lain yang boleh menjadi perhatian
perlindungan kawasan hutan bakau adalah burung
kuntul atau sejenis bangau putih. Kini, di sana juga
tidak tampak burung-burung kuntul bergerombol di
pesisir. Kalaupun ada, mereka hanya terbang rendah
dan kembali terbang ke arah pantai Kabupaten
Karawang. Jumlahnya yang pada waktu itu bisa
mencapai ribuan dan biasanya memilih untuk
menetap di karang-karang dan pohon, kini satu
dua pun hanya bisa ditangkap mata penduduk bila
beruntung. Bila tidak segera mendapat perhatian dan
penanganan yang serius, sepertinya cuma soal waktu
satwa ini akan punah.
Berangkat dari pemikiran ini juga, lintas komunitas
#SaveMugo ini menggabungkan upaya konservasi
mangrove ini satu paket dengan upaya perlindungan
satwa dalam hal ini Lutung Jawa. Apalagi sudah
sangat nyata bahwa populasi Lutung Jawa kian
berkurang. “Saya iri dengan Pemkab Bogor yang
berani menetapkan Surili sejenis primata sebagai
fauna identitas Kabupaten Bogor. Kalau Bogor bisa,
mestinya Bekasi bisa,” harap Uci. “Dan untuk bisa
memberikan perlindungan bagi warga dari abrasi, dan
sekaligus perlindungan bagi satwa liar, satu-satunya
cara yang paling baik adalah menghutankan kembali
mangrove.”
Beberapa kegiatan dikembangkan hanya untuk
target memperkenalkan potensi alam pesisir
dan informasi yang memadai tentang kerusakan
hutan mangrove di pesisir Muaragembong. Jenis
kegiatan semacam ini dilakukan dengan pembuatan
film dokumenter dan sebagainya. Beberapa yang
lain digagas dalam bentuk keterlibatan langsung,
di antaranya adalah edukasi mangrove, tanam
mangrove, camping, pendidikan perlindungan satwa
dan sebagainya. Selain digagas Uci dan kawankawan di lintas komunitas, beberapa komunitas
menunjukkan kepedulian dengan terjun langsung
membentuk aktivitas sendiri seperti Forum Tujuh
Tiga (Fortuga) ITB, wisata penanaman dan edukasi
mangrove bertajuk “Pride Of Muaragembong”. Lain
itu, eLKAIL yag menggagas Program Rehabilitasi
Mangrove Berbasis Pemberdayaan Masyarakat,
melalui delapan kelompok binaan. dengan target
pembibitan dan penanaman setelah 6 bulan sekitar
10.000 batang mangrove jenis Rizhophora Mucronata
dengan support dana operasional dari eLKAIL sendiri
dengan pola donasi program#OneTreeOnePeople.
Bermodal adopsi sebesar Rp. 10.000,- (Sepuluh Ribu
Rupiah) per batang, yang melingkupi biaya dari
pembibitan hingga biaya pemeliharan selama tiga
tahun, dengan teknis penyulaman dan pergantian
pohon baru untuk pohon yang rusak dimakan hama
wideng.
Uci masih terus mengembangkan upayanya
dalam mangroving Muaragembong, yang paling baru
adalah mengembangkan kerja sama dengan Green
Peace. “Pembicaraan sudah dilakukan beberapa
kali, tetapi memang belum dalam bentuk aktivitas
riil. Semoga tidak terlalu lama, “ harap Uci menutup
perbincangan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.