Acara Kria’an Bekasi

Dua jawara berpakaian pangsi hitam dan merah dengan bendo di pinggang tampak berhadap-hadapan, meski secara fisik terlihat ada perbedaan mencolok karena faktor umur yang berselisih jauh, tapi dari jogrogan keduanya masih ingin menunjukkan kebolehannya
dalam mempraktikkan jurus-jurus silat yang dikuasai. Terbukti dari kuda-kuda yang dipertontonkan terlihat jelas kalau mereka bukan orang sembarangan.

TABUHAn gendang makin menambah kesemarakkan suasana, sementara penonton kian http://2.bp.blogspot.com/-rasl8GncbPQ/VHtO_AwaRTI/AAAAAAAAWYc/aZbi7LDjk7Q/s1600/Budaya%2BKerian%2BBekasi%2BHarus%2Bdi%2BLestarikan.jpg
penasaran ingin buru-buru menyaksikan keduanya bertarung sembari membayangkan seolah-olah yang berdiri di depan mereka memang dua sosok pendekar yang sering dilihat di film-film silat.
“Eh, bang. Ikan gabus dari Kali Malang. Dipecak lada pedes rasanya. Ini jurus bukan sembarang, kena kepala susah obatnya,” kata jawara berpangsi hitam sambil berpantun.

“Eh, bang pecak lada emang pedes rasanya. Dimakannya pas tengah hari. Kalo emang kena kepala susah obatnya, gua tetep kaga bakal lari,” sahut jawara berpangsi merah sambil menepuk dada.

Penonton makin riuh, bunyi gendang kian menjadi.
Bersamaan dengan itu keduanya mulai merangsek maju, mengeluarkan jurus-jurus andalan sambil mengarahkan pukulan, tendangan dan tangkisan.
Situasi makin panas, apalagi bendo dari sarung pun ikut dikeluarkan, diputar-putar dan ditebaskan ke sana-sini. Jawara berpangsi hitam kelihatan lebih berpengalaman karena mampu menghindari ayunan senjata khas Bekasi dengan lihaynya. Pertarungan
terus berlanjut, sampai akhirnya suara adzan dari masjid Al-Mubarok di sebelah kanan panggung menyadarkan mereka untuk segera  menghentikan atraksi yang memang menarik perhatian itu.
“Eh, bang. Kaen sarung baru dicuci, dijemur di depan latar. Kita betarung kudu brenti. Udah waktunya kita sholat Azhar,” kata jawara berpangsi merah.
“Eh, bang. Njemur kaen emang di latar, latarnya masih tanah merah. Ayo sigra kita sholat Ashar, berharap redo dan dapet berkah,” sahut si pangsi hitam.
Penonton bertepuk tangan buat keduanya sebagai pujian karena telah memberikan hiburan menyegarkan. Pemandangan tersebut bisa dilihat
saat digelar acara Kria’an Bekasi. Berbagai suguhan menarik ditampilkan, mulai dari sajian kuliner khas Bekasi seperti sagon, abug, dodol, emping jengkol, bandeng rorod, laksa, asinan dan sebagainya. Nuansa kehidupan masyarakat Bekasi yang plural (menurut kajian Antropolog lulusan Universitas Udayana-Bali, DR Farida Indriani Oesmansyah) pun tergambar jelas dengan dibuatkannya area Arab, Cina dan Betawi-Bekasi. Begitu juga beragam kesenian dimunculkan, ada grup topeng, hadroh, marawis, gambus, musik jalanan, barongsay, mainan tradisional
anak-anak semisal dampu, gala asin, benteng, panggal, lompat karet, congklak hingga layar tancep (memutar film Si Pitung, Si Ayub dari Teluk Naga dan Singa Krawang-Bekasi) juga dihadirkan. Makanya sudah dua tahun berturut-turut, dimulai pada 22-23 Nopember 2013 dan 28-29 Nopember 2014, separo Jalan M. Hasibuan, Bekasi Timur, Kota Bekasi tertutup bagi kendaraan umum. Angkutan kota sejenis elf dan koasi yang saban hari melalui jalur tersebut, terpaksa mengalah dengan mengambil jalan lurus menyelusuri pinggiran Kali Malang dan belok persis di pertigaan Poncol sembari melewati kober.

Acara yang digagas Ikatan Keluarga Alumni SMAN I Bekasi bersama Dewan Kesenian Kota Bekasi dan Universitas Islam’45 Bekasi itu menurut panitia memang ingin mengingatkan masyarakat Bekasi akan kekayaan budaya yang dimiliki daerahnya. Meski terlihat sederhana tapi masyarakat menyambutnya dengan antusias. Apalagi di Kria’an Bekasi 2014 kemarin, Wali Kota Bekasi Dr. Rahmat Effendi berkenan hadir dan membuka acara tersebut. Begitu juga Wakil Walikota H. Ahmad Syaikhu yang datang di hari keduanya. Semoga kegiatan seperti ini bisa menjadi ikon budaya bagi Bekasi dan kedepannya menjadi agenda tahunan.

OMANABDULROCHMAN

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This blog is kept spam free by WP-SpamFree.