Galeri Fokus

Galeri Fokus by Rahman Faisal

ORNAMEN GEDUNG TUA

_MG_0026

Gedung Juang Tambun adalah sebuah situs sejarah yang terletak di kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Sebelum Revolusi Nasional, bangunan ini bernama Landhuis Tamboen atau Gedung Tinggi, dan merupakan pusat tanah partikelir milik keluarga Khouw van Tamboen. Gedung Juang Tambun dan stasiun Tambun yang telah dihancurkan yang terletak di belakang gedung ini, dua-duanya bergaya Art Deco dan merupakan satu kesatuan sejarah tidak terpisahkan.

kayu tua

Gedung Juang Tambun dibangun dengan dua tahap oleh seorang baba bangsawan dan tuan tanah, Khouw Tjeng Kie, Luitenant der Chinezen. Ia mempunyai dua saudara laki-laki, Luitenant Khouw Tjeng Tjoan dan Luitenant Khouw Tjeng Po. Ayah mereka adalah seorang pachter dan tuan tanah bernama Khouw Tian Sek.

Setelah kematian Luitenant Khouw Tjeng Kie, kepengurusan baik tanah partikelir maupun Landhuis Tamboen jatuh ke tangan putra sang Luitenant, yaitu Khouw Oen Hoei. Ia adalah adik O. G. Khouw yang dimakamkan di mausoleum tersohor dan mewah di Petamburan. Sepupu mereka yang paling terkemuka pada era kolonial adalah Khouw Kim An, Majoor der Chinezen terakhir di Batavia, yang adalah putra paman mereka, Luitenant Khouw Tjeng Tjoan.

lampu

Tahap pertama pembangunan mulai pada tahun 1906, dan selesai pada tahun 1910. Kemudian tahap ke-dua pada tahun 1925. Pada awalnya, halaman depan Gedung Juang Tambun yang terlihat dari jalan Hasanudin ini banyak ditanami oleh pohon mangga yang pada masa itu tidak begitu dikenal di kalangan masyarakat wilayah Tambun dan Bekasi.

 

Pembangunan rumah yang di kenal ‘mewah’ pada saat itu dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama pembangunan mulai pada tahun 1906, dan selesai pada tahun 1910. Kemudian tahap ke-dua pada tahun 1925.

_MG_0003

Karena gedung ini beberapa kali berpindah tangan mulai dari penjajah Jepang hingga pemerintah RI yang masih muda, banyak isi bangunan megah ini yang dirampas, terutama oleh penjajah jepang. Namun beberapa ornament yang masih lengket dan terpaku di gedung ini masih memperlihatkan sisa-sisa kemewahannya di zaman ‘tuan tanah’ tersebut.

Sebut saja sebuah brankas dari besi tebal yang diyakini sebagai tempat menyimpan harta dan perhiasan si pemilik rumah. Selain itu lantai kaca dan ubin asli yang masih terpasang, masih merupakan bagian asli dari rumah tinggi ini.

brankas

Setelah Jepang menarik diri dari Indonesia pada tahun 1945, KNI (Komite Nasonal Indonesia) menjadikan Gedung Juang Tambun sebagai kantor Kabupaten Jatinegara. Tidak hanya menjadi kantor kabupaten, gedung ini juga dijadikan sebagai menjadi tempat pertahanan dan pusat komando dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari tentara sekutu yang hendak menjajah Indonesia kembali.

_MG_0033

Pada akhir tahun 1947, Belanda melanggar Perjanjian Linggar Jati dan melakukan agresi militer pertama, Gedung Juang Tambun pun dapat dikuasai oleh Belanda setelah melakukan serangan bertubi-tubi hingga tahun 1949 Namun tahun 1950 pejuang Indonesia dapat merebut kembali gedung ini. Setelah gedung ini berhasil di kuasai dan wilayah Tambun berhasil diamankan, maka aktivitas pemerintahan kembali dilakukan di gedung ini. Tercatat pada tahun 1950 Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi menempati gedung ini kali pertama, disusul oleh kantor-kantor dan jawatan lainnya hingga akhir 1982.

_MG_0007

Pada tahun 1951 gedung ini diisi oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, Batalyon Kian Santang. Lembaga wakil rakyat pun pernah berkantor di gedung ini hingga tahun 1960 diantaranya DPRD Sementara, DPRD Tk. II Bekasi dan DPRD-GR hingga tahun 1960. Pada tahun 1962 dijadikan tempat tahanan politik Partai Komunis Indonesia (PKI).

_MG_0009

Pada tahun 1982, Bupati Bekasi yang juga seorang budayawan, Abdul Fatah yang menjabat dari tahun 1973 – 1983 membentuk Akademi Pembangunan Desa (APD) di wilayah Tambun dengan menggunakan Gedung juang Tambun sebagai kampusnya.

burung

Sekarang rumah ini tinggi sudah menjadi tempat tinggal yang ‘mewah’ bagi ribuan kelelawar yang bersarang di bagian paling tinggi di rumah ini. Setiap pagi akan terlihat barisan kelelawar ini terbang memasuki rumah ini.

dinding

 

 

_MG_0056

_MG_0048

 

Next Post

1 Comment

  1. Andrea Ramschie 6 Juli 2017

    Halo tulisan nya sangat menarik dan kalau boleh kalau ada beberapa bibliografi yang menjadi pustaka ini baloh di share ke email saya. terima kasih.

    Warm regards,

    Andrea Ramschie
    Universitas Indonesia

Leave a Reply

© 2017 Galeri Fokus

Theme by Anders Norén