Galeri Fokus

Galeri Fokus by Rahman Faisal

Cap Go Meh, Sebuah Kebersamaan Di Bekasi

_MG_0037_new

Warna merah sangat mendominasi Klenteng Hok Lay Kiong yang tengah sibuk mempersiapkan perayaan tahunan, Cap Go Meh, Februari lalu. Enam buah Joli (tandu) berwarna utama merah berbaris rapi dalam dua deret ditengah ruangan utama Klenteng Hok Lay Kiong di Jalan Kenari, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.

_MG_0016

 

Empat orang petugas klenteng tampak sibuk mempersiapkan Joli dengan menata beragam pernak pernik pembawa Kim Sin Sin Beng atau disebut juga patung suci para Dewa.

_MG_0129_new

Bagian atap dari Joli diikatkan 5 lembar kain berbagai warna yang menjulur kebawah. Tidak ketinggalan pula para petugas ini melapisi bagian tertentu Joli dengan Sui Kim, lembaran kertas berwarna kuning dengan tinta emas dan bergambar tiga dewa. Bahkan bagian kaki Joli yang menyentuh tanah pun dilapisi dengan tumpukan Sui Kim dengan ketebalan 5-10 Sentimeter.

_MG_0073_new

Silai (57 tahun) adalah salah satu petugas Klenteng Hok Lay Kiong yang sudah 25 tahun mengabdi disini. Dengan pengalamannya selama itu, Silai cekatan memasangkan pita kain di puncak limas atap Joli. “Joli ini akan diarak membawa Kim Sin Sin Beng berkeliling kawasan pada saat festival Cap Go Meh nanti,” terang Silai disela kesibukannya.

_MG_0063

Sudradjat, pria yang sudah puluhan tahun mengabdi di Klenteng Hok Lay Kiong menjelaskan fungsi dari kain lima warna yang dipasang di atap Joli. “Warna kain mewakili lima unsur kehidupan, Putih mewakili unsur Air (Swii), Merah mewakili unsur Api (Kwe), Hitam mewakili unsur Tanah (Tho), Hijau atau Biru mewakili unsur Kayu (Bok) dan Emas atau Kuning mewakili unsur Logam (Kim),” jelasnya. “Selain itu Joli juga dihiasi bunga hidup yang menyebarkan wangi mewakili unsur kehidupan yang makmur dan bahagia,” imbuhnya.

_MG_0109_new

Sementara tumpukan kertas Sui Kim yang menyerupai uang kertas, menjadi alas Joli dan melapisi bagian bagian tertentu mewakili unsur Rejeki, Ilmu dan Panjang Umur. “Beberapa bagian dilapisi dan dialasi dengan Sui Kim sebagai pengagungan dan pengharapan kepada Sin Beng atau Dewa. Bahkan alas dudukan Rupang (Kim Sin) di dalam Joli pun tak luput dari tumpukan Sui Kim,” tambah Sudradjat lugas.

_MG_0124_new

Senin, 22 Februari 2016 lalu, semua joli ini diarak pada festival Cap Go Meh yang dirayakan umat Budha dan Kong Hu Cu Kota Bekasi. “Ke enam Joli diarak secara berurutan. Pertama Joli Abu, kemudian Joli Kwan Im Posat, Joli Han Thian Siang Tee, Joli Hok Tek Ceng Sin, Joli Kwan Seng Tekun, dan terakhir Joli Sia Jin Kong,” papar Sudrajat.

_MG_0278

Setiap Joli diusung oleh empat orang pengusung utama dan belasan pengusung penggoyang terdiri dari Pengurus Klenteng, Umat dan Tamu Kehormatan. Kirab dimulai dari jalan Kenari yang merupakan lokasi Klenteng, menuju jalan Kartini, jalan Juanda, jalan Baru, Teluk Buyung, Stasiun, Patung Lele dan kembali ke Klenteng Hok Lay Kiong melewati jalan Mayor Oking.

_MG_0263_new

Selain mengarak Joli, kirab ini juga diramaikan oleh Drumband, liong, Barongsai, Ondel-ondel hingga Reog Ponorogo.  Perayaan Cap Go Meh selalu menjadi tontonan yang menarik setiap tahunnya bagi warga Kota Bekasi.

_MG_0280_new

Di deretan depan kirab juga diarak payung Dewa Naga dan Dewa Kura-kura yang dipercaya sebagai tuan rumah dan pelindung Klenteng Hok Lay Kiong. Di daerah asalnya di negeri Tiongkok, arakan perayaan Cap Go Meh ini dilakukan pada malam hari, makanya lebih festival lampion.

_MG_0287_new

Cap Go Meh di Bekasi seperti tahun-tahun sebelumnya selalu semarak dan terbuka untuk umum sebagai bentuk kebersamaan dalam kemajemukan masyarakat, “Festival Cap Go Meh ini milik masyarakat Bekasi, sangat bagus untuk mempererat kebersamaan diantara warga Bekasi. Kami membuka diri untuk masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam kirab Cap Go Meh. Tentu saja dengan saling bekerja sama menjaga kesakralan, ketertiban dan keamanan kirab Cap Go Meh,” pungkas Sudradjat.

_MG_0352

 

Merah adalah warna dominan dalam setiap perayaan tahun baru Lunar dan Cap Go Meh. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, jalanan utama yang dilalui kirab ini juga memerah, bagi penganut Budha dan Konghucu sebagai tanda dan semangat untuk meraih masa depan.

Teks : CAPRIT SANTOSO

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2017 Galeri Fokus

Theme by Anders Norén