Galeri Fokus

Galeri Fokus by Rahman Faisal

Babah Niman: Dari uang menjadi uang

_MG_0098

Gobang adalah mata uang yang terbuat dari logam. Pada zaman baheula, Gobang merupakan mata uang berharga yang sudah diperkenalkan sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda.

_MG_0059

Saat ini orang lebih fasih menyebut recehan ini sebagai koin. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Gobang berasal dari bahasa Sunda yang artinya uang tembaga senilai 2,5 sen.

 

_MG_0044

Di tangan babah Niman (64), yang tinggal di Kampung Dua RT. 07/02  Kelurahan Jakasampurna, Bekasi Barat, Kota Bekasi, uang recehan ini bermakna lain. Sejak tahun 1965, uang recehan yang bernama Gobang ini tak pernah dibelanjakan.

_MG_0014

Justru ia mempunyai keahlian menjadikan sebuah koin Gobang menjadi lebih sesuatu yang lebih bernilai. Menyulapnya sebagai ikat batu cincin. “Saya sudah mulai buat ini sejak taon 65, diajarin bapak. Ini sudah turunan,” ujarnya.

Sebagai anak tertua, tak banyak pilihan bagi Niman waktu itu, selain membantu orang tuanya yang menjadi pengrajin perhiasan dari Gobang ini. Karena sering membantu ayahnya tersebut keahlian ini akhirnya menurun kepadanya. “Sodara saya ada sembilan. Sekarang tinggal empat. Kalo orang tua lagi repot saya yang disuruh bantuin,” ungkap babah Niman.

_MG_0066

Dari sekeping uang Gobang pun bisa dibentuk berbagai jenis perhiasan. “Selain bisa buat cincin, dulu juga banyak yang pesen anting dan gelang untuk kaum perempuan. Tergantung bagaimana konsumen dah..,” jelasnya.

Walau zaman sudah banyak berubah, beragam bentuk dan bahan membuat iket batu cincin juga sudah tersedia, babah Niman masih tetap membuat iket cincin dari Gobang alias dari uang logam. Bahkan dengan keahlian ini, babah Niman dan Maroh istrinya membesarkan kelima anak mereka. “Saya mulai bikin ini sejak bayarannya 15 perak (rupiah) untuk satu ikatan, sampai sekarang 150 ribu satu buahnya. Dulu 15 perak sehari juga kaga abis dimakan,” ungkapnya.

_MG_0040

Untuk mendapatkan bahan baku tentulah tidak semudah zaman dahulu yang uang logamnya lebih tebal. Menurut babah Niman, sekarang ada pengepul uang logam kuno keliling yang menjadi langganannya untuk mendapatkan bahan baku. “Dulu ada Gobang hermina (Ratu Wilhemina) yang sering dibuat iket cincin. Uang receh sekarang lebih tipis tidak sama dengan Gobang dulu,” imbuhnya.

_MG_0038

Babah Niman juga masih menggunakan cara dan perangkat  yang unik dalam mengolah uang Gobang ini. Bahkan beberapa alatnya ia akalin sendiri. Sebuah pompa udara yang diinjek dengan kaki yang membantu menyemburkan api untuk melunakkan logam. Sepotong bambu yang dibelah dijadikan sebagai bantalan dalam pembakaran uang Gobang. Setelah logam memerah barulah dibentuk menggunakan palu dan peralatan sederhana lainnya. Menurut pengakuannya, palu yang digunakan adalah peninggalan ayahnya yang sudah ada sejak sebelum zaman kakeknya menjadi perajin uang Gobang ini.

_MG_0001

 

Dalam sehari babah Niman mampu mengerjakan satu iketan batu cincin. “Nyang lama itu ngebentuknya karena pake tangan,” terang babah Niman yang mengaku yang paling mahal yang pernah dikerjakannya ditawarkan 200 ribu kepada pemesannya.

_MG_0090

Selain membantu orang tuanya membuat ikat cincin, sejak remaja Niman sudah belajar silat khas Bekasi. Kepiawaiannya dalam memainkan jurus masih terlihat kokoh diusianya saat ini. “Saya belajar silat sejak tahun 1968 sama kong Sirun. Dulu waktu muda juga sering berantem kalau ada hiburan, atau di pasar. Biasalah masalah cewek ha..ha…,” ungkapnya, sambil terus membakar mata uang gobang dihadapannya.

Foto dan teks: RAHMAN FAISAL HASIBUAN

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2017 Galeri Fokus

Theme by Anders Norén